BERZINA? OH NO!

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk.: (QS Al Isra'(17): 32).

Telah 14 abad lebih lamanya larangan Allah ini tertera di dalam Al Qur’an, bahkan telah banyak lidah-lidah ulama yang menyuarakan ayat larangan ini. Toh, tetap saja perzinahan yang merupakan rukun pergaulan bebas ini kian masa kian merajalela merusak kehormatan peradaban. Perzinahan ini bahkan memiliki market tersendiri.

Padahal Allah Yang Maha Suci telah memberitakan bahwa ini adalah perbuatan keji dan adalah jalan yang buruk. Masa depan seolah tak mau belajar dari masa lampau, di mana telah terjejer banyak kasus dan telah jatuh banyak korban.

Dan Allah Yang Maha Pencipta Makhluk lagi Maha Tahu aturan untuk ciptaan-Nya, telah mengancam dengan hukum-Nya bagi para pezina:

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.” (QS An Nuur (24): 2).

Dan hukum terbaik bagi para pezina ini diperjelas rinciannya oleh Rasulullah Saw:

Dari Ubadah bin Shamit ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda, “Ambillah (hukum) dari padaku! Ambillah (hukum) dari padaku! Karena sesungguhnya Allah telah bukakan jalan bagi mereka, yaitu gadis dan jejaka dera seratus kali dan pengasingan setahun, dan yang sudah pernah menikah dengan yang sudah menikah (duda dan janda) dera seratus kali dan rajam.” (HR Muslim).

Sebagian ulama memandang, bahwa diasingkan setahun bagi yang belum menikah berbuat zina adalah tidak wajib, namun hanya diserahkan kepada kebijaksanaan hakim. Demikian pula dengan hukuman seratus kali dera bagi mereka yang sudah pernah menikah, tidak wajib, hanya diserahkan kepada kebijaksanaan hakim. Sebab banyak hadits yang menunjukkan mereka langsung dirajam sampai meninggal, tanpa didera lebih dahulu.

Allah menunjukkan bahwa melaksanakan hukum Allah (yaitu dera dan rajam), lebih utama dari pada memperturutkan perasaan. Opini yang terkembang di masyarakat yang (katanya) Muslim adalah: “hukum cambuk dan rajam bagi pezina sangat kejam dan sadis”. Mereka telah mengedepankan perasaan dan penilaian akal sehingga tidak mau melaksanakan hukum terbaik yang diberikan oleh Allah Yang Maha Tahu. Sehingga timbur pertanyaan: “Apakah mereka beriman kepada Allah dan hari akhir?” Dan hukuman itu dilaksanakan secara terbuka di depan mata sekumpulan orang yang dianggap beriman. Allah telah membukakan jalan taubat bagi para pezina.

Dan bagi mereka yang tak mau bertaubat, dan bagi orang-orang yang justru kian mendekati dan melakukan zina, maka renungkanlah gambaran dan ancaman Allah Yang Pedih Siksa-Nya.

“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni)  akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab  itu dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat dan beramal sholeh.” (QS Al Furqan (25): 68-70).

Dan Rasulullah Saw bersabda, “Orang selalu tetap dalam perzinahan seperti menyembah berhala.” (HR Kharaith).

Rasulullah Saw bersabda, “Zina itu menyebabkan kemisikina.” (HR Baihaqi).

Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang berzina itu wajah-wajah mereka akan menyala-nyala api.” (HR Thabrani).

Dan lebih memuakkan lagi bagi mereka yang sudah berusia tua, tapi masih juga mengumbar syahwat di luar jalur halal. Tidak hanya manusia melaknati mereka, bahkan alam pun begitu benci dengan orang tua yang berzina.

Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya langit lapis tujuh dan bumi lapis tujuh sangat melaknati orang tua yang berzina. Dan sesungguhnya orang-orang yang berzina itu kemaluannya menyebarkan bau busuk kepada penduduk neraka.” (HR Bazzar).

Rasulullah Saw bersabda, “Ada tiga orang yang kelak Allah tidak mau berbicara, tidak mau melihat, dan tidak mau mensucikan mereka, bahkan akan memperoleh siksaan yang pedih, mereka adalah: 1) Orang yang sudah tua berzina, 2) Seorang raja (penguasa) yang pendusta, dan 3) Orang miskin (melarat) tapi  sombong.”

Dan bagi mereka yang tidak puas, syukur dan tidak sabar dengan pasangannya, sehingga memilih selingkuh, perhatikan sabda Rasulullah Saw, “Orang berzina dengan istri tetangganya itu Allah tidak akan memandang dan tidak akan mensucikannya pada hari kiamat nanti, bahkan Dia berfirman: “Masuklah kamu ke neraka bersama-sama dengan orang yang masuk (ke dalamnya).” ” (HR Ibnu Ubay dan Al Khararaithi)

Dalam HR Baihaqi, Rasulullah Saw bersabda pula, “Wahai kaum Muslimin! Takutlah kamu akan berbuat zina, sebab disitu ada enam perkara, yang tiga di dunia dan yang tiga di akherat.

Adapun yang tiga di dunia adalah:

1.  Hilangnya sinar wajahnya,

2.  Pendek umurnya,

3.  Berlangsung terus kekafirannya.

Sedangkan yang tiga perkara lagi di akherat ialah:

1.  Mendapat kemurkaan Allah  SWT.

2.  Hisab (hitungan amal) yang jelek, dan

3.  Azab neraka.

Dan perlu diketahui bahwa zina adalah dosa besar nomor 2 setelah syirik.

Rasulullah Saw bersabda, “Tidak ada dosa yang paling besar di sisi Allah sesudah syirik kepada Allah, dapat melebihi dosa orang yang menumpahkan air mani (sperma)nya pada perempuan yang tidak halal.” (HR Ahmad dan Thabrani).

Dan kelak di neraka, para pezina menjadi penyuplai minuman bagi para peminum khamer.

Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan minum khamer, niscaya Allah akan memberi minuman kepada orang tersebut dari sumber ghutbah, yaitu sumber di dalam neraka berasal dari farjinya (kemaluannya) tukang zina.” (HR Abu Ya’ala dan Ahmad).

Dan Rasulullah Saw memberi gambaran kondisi pezina di dalam neraka.

Samurah bin Jundub ra meriwayatkan, bahwa Nabi Saw telah didatangi malaikat Jibril dan malaikat Mikail, Nabi Saw bersabda, “Kita berangkatlah dan sampailah kepada dapur api, yang sebelah atas sempit sedang sebelah bawah lebih besar, dari dalamnya terdengar suara keras.” Nabi Saw bersabda, “Kami lalu menengok ke dalam ruang tungku tersebut, ternyata disitu ada orang-orang laki-laki dan orang -orang perempuan yang banyak tidak berpakaian, tiba-tiba menyalalah api dari bawah mereka dan seketika itu mereka berteriak-teriak yakni menjerit-jerit karena kepanasan, lalu aku bertanya: ‘Siapakah orang-orang itu, wahai Jibril?’ Malaikat Jibril menjawab: ‘Itulah orang laki-laki dan perempuan yang berzina dan itulah siksa mereka di hari kiamat nanti.” (HR Baihaqi).

Sungguh betapa bodohnya bagi orang-orang yang tidak gemetar jiwanya jika mengetahui balasan bagi perbuatan zina, justru mereka memilih nikmat yang tak seujung kuku dan begitu sombong siap menerima azab dunia akherat.

Karena begitu tercelanya para pezina ini, maka Allah menurunkan aturan untuk menjaga perkembangbiakan keturunan orang-orang yang beriman dari terkontaminasi farjinya para pezina.

Allah SWT berfirman:

“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik. Dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki yang musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang beriman.” (QS An Nuur (24): 3).

Sangat jelas, orang yang beriman diharamkan menikah dengan pezina.  Pezina untuk pezina, kecuali bagi pezina yang telah bertaubat dan beramal sholeh. Sangat penting mengetahui status calon pasangan anda sebelum akad nikah terjadi.

(abu dzakira)

NIKMAT SEKEDIP, HUJAT SEBELALAK

Waktu berlalu dan waktu pun yang membuktikan. Skandal mesum icon free seks, freelive, dan freelove mulai terkuak di dalam fitnah, gunjingan dan hujatan masyarakat luas. Cerita skandal ini sungguh “best seller” di media cetak dan media elektronik. Selalu jadi topik utama ibu-ibu dan remaja putri. Dan jadi obrolan genit kaum lelaki. Berbagai kalangan pun turun gunung dan unjuk aksi mengecam, menghujat, mengutuk dan mengancam. Penguasa daerah pun ambil sikap tegas. Para ahli keilmuan pun sumbang jasa untuk membongkar. Tak butuh pengakuan, tapi pembuktian. Siapa yang berani menantang ilmu pengetahuan?

Yang punya wargos alias warung gosip, berlomba-lomba membeli bumbu. Aib pun menjadi cerita menarik setiap wargos. Dan cerita pun berubah gunjingan. Dari gunjingan menjadi fitnah.

Padi telah ditanam. Seiring waktu padi pun tumbuh. Dan kini masa panen. Dan hasil pun sedang dituai. Logika sehat pun bertanya. Banyak kasus seperti ini di masyarakat, bahkan menimpa anggota keluarga atau tetangga kita. Tiga artis itu hanya kebetulan jadi icon karna kepopulerannya. Padahal ketika mereka bertanam di lahan larangan, waktu nikmatnya hanya sekedip, setelah itu tidak lebih. Tapi aib, malu dan hujatan harus mereka gendong lama. Karena begitu beratnya, keluarga dan terutama kedua orang tua, mau tak malu harus turut memikulnya.

Alangkah bijaknya jika mereka bertanam di lahan milik sendiri. Wahai bujangan dan perawan, MENIKAHLAH dan bercocoktanamlah dengan halal!
(aninda serunai)

ANCAMAN KALUNG EMAS FATHIMAH

Tsauban ra dalam sebuah riwayat mengatakan: Aku bersama Rasulullah Saw masuk ke tempat Fathimah ra di mana pada saat itu ia telah mencopot sebuah kalung emas dari lehernya, ia berkata: “Kalung ini dihadiahkan oleh Abu Hasa (Ali) kepadaku.” Rasulullah Saw bersabda: “Wahai Fathimah! Senangkah kamu jika orang-orang mengatakan ‘Fathimah putri Muhammad memiliki kalung dari neraka?’ ” Kemudian beliau keluar. Akhirnya Fatimah pun membeli seorang budak  lelaki dengan kalung tersebut lalu memerdekakannya. Nabi Saw berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan Fathimah dari neraka.” (HR Ahmad, Al Hakim, Nasa’i. Dishahihkan oleh Al Hakim dan di sepakati oleh adz Dzahabi).

Jelas bagi kita kesungguhan Rasulullah Saw dalam menjaga dan menyelamatkan putrinya. Karena seperti yang telah diriwayatkan, bahwa Rasulullah Saw sendiri tidak dapat menyelamatkannya di akherat nanti, maka beliau sangat bersungguh-sungguh dalam menasehatinya dalam menunjukkannya kepada jalan yang benar. Dan Fathimah ra adalah sebaik-baik orang yang melaksanakan perintah dan menunaikannya.

Hikmah lain yang dapat kita ambil adalah:

1.  Rasulullah Saw sebagai orang tua. Rasulullah Saw menunjukkan sikapnya sebagai orang tua yang melihat putrinya berbuat sesuatu yang tercela dan dapat menimbulkan fitnah. Dan itulah yang harus kita contoh selaku orang tua.

2.  Fathimah ra sebagai seorang putri. Selain sebagai seorang ummat Rasul, sebagai seorang anak, Fathimah ra segera menjauhi larangan orang tuanya yang lebih mengetahui dan diganti perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik yang berturut-turut, yaitu membeli budak dan memerdekakannya.

3.  Ali ra sebagai seorang suami, Fathimah ra menyebutkan bahwa kalung itu hadiah dari suaminya. Ali sebagai suami menunjukkan kasih sayang dan perhatiannya yang tinggi kepada sang istri dengan pemberian hadiah. Inilah yang harus dicontoh oleh para suami. Tapi jangan memberi hadiah dengan barang yang haram.

(abudzakira)

TRANSAKSI YANG MENGUNTUNGKAN

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqon dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS Al Anfal: 29).

Ya…Muslimin! Allah SWT menawarkan satu transaksi yang sangat menguntungkan kepada kita. Allah SWT akan memberikan furqon (petunjuk yang dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil atau pertolongan). Renungkanlah, ya Akhi! Apa jadinya jika kita hidup di kolong langitnya Allah tanpa petunjuk? Alangkah tersiksanya jiwa. Seolah-olah kita tidak diakui oleh Yang Maha Memiliki Makhluk.

Ya Muslimin! Sudah sebanyak apakah kesalahan-kesalahan kita? Sudah stinggi apakah dosa-dosa kita? Terkadang kita merasa berbuat benar, tapi sebenarnya berbuat salah dan dosa, sehingga dosa-dosa kita terus menumpuk dan kian berkarat. Dan Allah SWT kembali menambahkan pembayaran transaksi-Nya dengan menghapus segala kesalahan dan segala dosa kita. Ya Akhi! Hal apa yang membuatmu menolak transaksi yang begitu menguntungkanmu ini? Renungkanlah ya Akhi! Apa jadinya jika kelak kita meninggalkan dunia ini dengan selaut kesalahan? Apa jadinya jika kita meninggalkan dunia ini dengan selangit dosa-dosa? Na’udzubillah! Hal apa yang meragukanmu, ya Akhi? Bukankah Allah mempunyai karunia yang besar?

Betapa Maha Rahmannya Allah sehingga masih peduli akan keadaan kita, ya Akhi. Hanya satu yang ingin Alla beli dari kita dan Allah membayar lebih dari satu dan sifatnya kekal. Allah hanya ingin membeli taqwa kita yang sedikitpun tidak Allah butuhkan. Allah ingin kita jadi orang-orang beriman yang akan masuk surga. Untuk itu, ya Akhi, menunggu apa untuk bertaqwa? Bertaqwalah sekarang juga! Maka Allah akan membayarmu dengan harga yang sangat mahal. Allah Maha Memenuhi Janji!
(abudzakira)

YAHUDI DI BALIK PERPECAHAN

“….Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik (mempersekutukan Allah), yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS Ar Ruum (30): 31-32).

Jika ada yang mengatakan ummat Islam hari ini ‘bersatu’, maka ia berdusta. Terpampang jelas di depan  mata peta ukhuwah Muslimin dunia hari ini. Yahudi yang kini mengangkangi dunia timur dan barat telah berhasil menciptakan sel-sel ghaib yang memenjarakan umat Islam seluruh dunia, menciptakan sekat-sekat anti ukhuwah yang memustahilkan Muslimin bersatu.

Usaha beratus-ratus tahun kaum Yahudi ini mulai memperlihatkan titik terang keberhasilan pada tahun 1924, yaitu diruntuhkannya simbol kesatuan Muslimin, Kekhalifahan Turki Utsmani. Kemudian menyusul munculnya negara parasit Zionis Israel, yang terbukti hingga hari ini bukan saja menjadi parasit bagi negeri barakah Palestina, tapi juga menjadi parasit raksasa bagi dunia.

Umat Islam dipecah ke dalam faham-faham kebangsaan dan nasionalisme, apakah itu faham imperialisme, sosialis, liberal, komunis atau sekuler dan lain-lain. Lalu penganut faham itu dikotak-kotak lagi ke dalam bentuk negara-negara, sehingga Muslimin terkurung dalam teritorial dan aturan internasional yang dikendalikan oleh Yahudi. Dalam negara-negara itu, Muslimin kembali digiring ke dalam pengkelompokan partai-partai. Biar Muslimin itu sendiri yang memilih sendiri sesuai selera dan kecocokannya.  Yahudi tinggal menyuguhkan sistemnya, yaitu demokrasi. Dalam pemahaman ajaran Islam pun, Yahudi bermain halus dengan menciptakan banyak aliran seperti: Qadariyah, Jabariyah, Mu’tazilah, Syi’ah, Sunni, Salaf, Islam Jama’ah, dan lain-lain. Dan muncul marak pula jama’ah-jama’ah pengajian, juga komunitas-komunitas kecil di kalangan masyarakat Muslim. Yahudi tinggal memulai awalnya, dan Muslimin yang berwatak firqah (perpecahan) tinggal melanjutkan, maramaikan dan menyempurnakan perpecahan itu.

Tidak cukup dengan pengkotak-kotakan, Yahudi pun menyerang aqidah Muslimin dengan invansi pemikiran dalam bentuk ideologi dan falsafah. Ghazwatul fikri pun tergelar. Aqidah dan kaidah Muslimin pun secara perlahan bergeser kemudian bercampur baur dengan isme-isme yang menyesatkan, seperti orientalisme, westernisasi dan sekulerisme. Maka terhamparlah Muslimin yang lemah secara aqidah, jadi penghamba dunia dan hidup dalam FreeGod Area.

Umat Islam yang semula merupakan Ummatan Wahidah, yakni satu masyarakat dunia di bawah satu kepemimpinan, kini terkoyak-koyak dalam kemasan nasionalisme, ormas, orpol, sekte dan lain-lain.

Untuk menjebol dan meruntuhkan dinding-dinding pengkotakan berlapis tersebut, kita harus menanggalkan seluruh karakter perpecahan kita. Jika tidak mengorbankan kepentingan yang kita anggap sangat prinsip ini, maka selalu akan terkondisi sebagai hidangan lezat yang begitu menggugah selera makan kaum kuffar.

Dari Tsauban ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Berbagai bangsa akan mengerubuti kalian sebagaimana mereka mengerubuti hidangan makan.” Seorang bertanya, “Apakah karena jumlah kami sedikit pada saat itu?” Rasulullah Saw menjawab, “Kalian pada saat bahkan berjumlah banyak. Akan tetapi kalian seperti buih di lautan. Allah telah mencabut rasa takut dari dada-dada musuh kalian terhadap kalian dan Allah menimpakan ke dalam hati kalian “Al-Wahn”.” Seorang bertanya, “Apa itu Al-Wahn?” Rasulullah Saw bersabda, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Dawud).

Orang-orang kafir dengan sangat kompak bahu membahu membangun konspirasi global baik secara terbuka maupun tersembunyi. Dari mendikte apa yang dimakan Muslimin sampai skandal kenegaraan mereka sutradarai. Dan berkolaborasi dengan syaithan agar mendidik Muslimin panjang angan-angan dan memuja dunia (QS Al An’am (6): 112). Tanpa sadar Muslimin menjadi pengikut setan (baca: SETAN VS MANUSIA). Dan Allah pun berkehendak memberikan ke dalam hati Muslimin penyakit “Al-Wahn” (cinta dunia takut mati). Maka seumpamalah Muslimin seperti “buih di lautan“. Tak ada kekuatan.

Tak semua Muslimin itu tertimpa Al-Wahn. Tak sedikit para mujahid yang dimiliki Islam setiap masanya, hingga hari ini. Bahkan tak sedikit yang siap meledakkan diri demi Islam. Tak gentar mereka meski harus membalas tank baja dengan batu lemparan tangan. Namun dengan mudahnya Yahudi dan orang-orang musyrik ini mengebiri jiwa-jiwa mujahid Muslimin dengan menanami dunia dengan sistem-sistem perpecahan, terutama sistem “demokrasi” yang dikampanyekan secara berlebihan sehingga tercipta opini bahwa demokrasi adalah sebaik-baiknya sistem untuk kehidupan bermasyarakat. Jurus klasik pun masih ampuh di masa kini, seperti “adu domba” dan “politik belah bambu”.

Kini Muslimin seperti kerubunan lalat yang memenuhi atas meja, lalu oleh orang-orang kafir lalat-lalat itu dikurung dengan kurungan kantong plastik, lalu kurungan itu dipukul begitu saja hingga lalat di dalamnya mati semua. Dan beberapa peristiwa besar beberapa tahun belakangan ini menjadi bukti bahwa rasa takut orang-orang kafir telah dicabut oleh Allah. Invansi ke negara-negara Muslim, blokade Gaza, upaya peruntuhan Masjid Al Aqsha, dan terakhir kasus penyerangan kapal Mavi Marmara, sebagai bukti nyata yang paling nyata bahwa kecaman dan kutukan internasional kian mempongahkan dagu para Yahudi Israel.

Dan ingatlah! Karena Allah SWT telah mengabarkan:

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (QS Al Maidah (5): 82).

Sumber utama kelemahan dari dalam tubuh Muslimin itu sendiri adalah berakarnya watak perpecahan (firqah) di dalam perpecahan. Karena perpecahan (bergolong-golongan) itulah tanpa sadar sebagian Muslimin menjadi orang-orang musyrik (QS Ar Ruum (30): 31-32) dan (QS Asy Syura (42): 13). Karena perpecahan itulah sebagian kaum Muslimin berada dalam kesesatan (QS Al Mu’minun (23): 54). Karena perpecahan itulah Allah mengazab sebagian kaum Muslimin dengan perpecahan itu (QS Al An’am (6): 65). Dan mereka yang berpecah belah, urusannya kembali terserah kepada Allah (QS Al An’am (6): 159).

Perpecahan umat Islam akan terus ada, sebagaimana Rasulullah Saw menjawab pertanyaan para sahabat, “Sesungguhnya aku telah melaksanakan sholat dengan penuh suka dan duka, aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla tiga hal untuk umatku, maka ia memperkenankan yang dua hal dan menolak yang satu hal. Aku memohon agar umatku tidak dikalahkan oleh musuh selain dari mereka (orang kafir) maka Allah memperkenankannya, dan untuk tidak dibinasakan oleh banjir maka Allah memperkenankannya. Dan aku memohon kepada-Nya agar umatku tidak berpecah belah tetapi Dia tidak memperkenankannya.” (HR Ibnu Majah – Tirmidzi).

Dan solusi dari perpecahan itu ialah keluar dari perpecahan dan tetapilah Jama’ah Muslimin dan Imam mereka (Hadits Khuzaifah bin Yaman ra). Bukanlah Jma’ah Muslimin yang dimaksud adalah ummat Islam seluruhnya, tetapi Muslimin yang melaksanakan Al Qur’an secara berjama’ah di bawah satu instruktur kepemimpinan (QS Ali Imran (3): 103). Jika yang dimaksud Jama’ah Muslimin adalah umat Islam secara keseluruhan yang ada, maka bertentangan dengan nubuwwah Rasulullah Saw tentang adanya 72 millah sesat dalam tubuh umat Islam. Jelas menunjukkan Al Jama’ah terpisah dari 72 millah lainnya yang juga beragama Islam (baca: 1 JALAN 1 MILLAH).

Maka, ingatlah selalu peringatan Allah dalam firman-Nya:

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong kamu.” (QS Al Baqarah (2): 120).

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

(abudzakira)

MALAIKAT KELABAKAN

Ibnu Abbas ra berkata: Umar ra berkata kepada para sahabat, “Kami telah mengerti dan mengetahui kalimat Subhanallah, Laa ilaaha illallah dan Allahu akbar. Maka apakah Alhamdulillah itu?” Jawab Ali ra, “Suatu yang dipilih oleh Allah untuk memuji Dzat-Nya.”

Ibnu Abba ra berkata, “Alhamdulillah kalimat syukur, maka jika seorang membaca Alhamdulillah, Allah menjawab: Hamba-Ku telah bersyukur kepada-Ku.”

Jabir bin Abdullah ra berkata: Rasulullah Saw bersabda, “Seutama-utama dzikir ialah “Laa ilaaha illallah”, dan seutama-utamanya do’a ialah “Al hamdulillah”.” (HR At Tirmidzi, hadits hasan gharib).

Anan bin Malik ra berkata: Nabi Saw bersabda, “Tiadalah Allah memberi nikmat kepada seorang hamba-Nya, kemudian hamba itu mengucapkan “Alhamdulillah“, melainkan apa yang diberi itu lebih utama (afdhal) dari yang ia terima (yakni ucapan “Alhamdulillah” lebih besar nilainya dari nikmat dunia itu).” (HR Ibnu Majah).

Anas bin Malik ra juga meriwayatkan, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Andaikan dunia sepenuhnya ini di tangan seorang dari umatku kemudian ia membaca “Alhamdulillah” maka pasti kalimat “Alhamdulillah lebih besar dari dunia yang di tangannya itu.”

Ibnu Umar ra berkata: bahwa Rasulullah Saw bercerita, “Ada seorang hamba Allah membaca “Ya Rabbi lakalhamdu kamaa yan baghi lijalaali wajhika wa ‘azhiimi sulthoonika (Ya Rabb-ku, segala puji bagi-Mu sebagaimana yang layak bagi kebesaran Dzat-Mu dan kebesaran kerajaan-Mu)“. Kalimat ini menyukarkan bagi kedua Malaikat yang mencatat amal manusia, sehingga kedua Malaikat tidak mencatatnya. Maka naiklah kedua Malaikat menghadap Allah dan berkata keduanya, “Ya Rabb kami, sesungguhnya ada seorang hamba membaca pujian yang kami tidak dapat menulisnya.” Allah bertanya, padahal Allah lebih mengetahui apa yang dibaca hamba-Nya, “Apakah yang dibaca oleh hamba-Ku?” Jawab kedua Malaikat, “Ya Rabb, ia membaca: Ya Rabbi lakalhamdu kamaa yan baghi lijalaali wajhika wa ‘azhiimi sulthoonika.” Firman Allah kepada kedua Malaikat, “Catatlah sebagaimana bacaannya itu sampai ia menghadap kepada-Ku. Maka aku yanbg akan membalas pahalanya.” (HR: Ibnu Majah).

Inilah kalimat-kalimat do’a yang lebih baik dari pada dunia dan bahkan membuat Malaikat pencatat amal kelabakan untuk mencatatnya hingga tak mampu.

(abudzakira)

MENGUSIR SYAITHAN DALAM HIDUNG

Dari Abu Hurairah ra, katanya: Rasulullah Saw bersabda, “Apabila seseorang diantara kamu sudah bangun dari tidur maka hendaklah dia mengisap air ke dalam rongga hidungnya (istantsara) (dan menghembuskannya keluar) tiga kali, karena syaithan tidur di dalam lobang hidung (khaysyum)-nya itu.” (Hadits disepakati Bukhari – Muslim).

Di dalam kamus kata “istantsara” itu berarti mengisap air ke dalam lobang hidung kemudian mengeluarkannya lagi lewat hidung itu. Ada pun kata “khaysyum” berarti bagian atas/dalam hidung. Ada yang mengatakan: hidung seluruhnya, ada juga yang mengatakan: bagian tulang rawan pada ujung hidung. Ada juga berpendapat selain itu.

Perintah istantsara, yaitu menyedot air ke dalam lubang hidung adalah perintah wajib. Istantsara ini adalah istantsara di luar dari rangkaian berwudhu’. Dan sunnah yang satu ini adalah sunnah yang jarang dibahas dan jarang dilaksanakan. Namun demikian, Allah telah memerintahkan untuk menyelami Islam secara keseluruhan (kaffah) (QS Al Baqarah (2): 208).

Dan juga Allah Yang Maha Perkasa memerintahkan:
“…Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah….” (QS Al Hasyr (59): 7).

Ingat! Rasulullah Saw mengabarkan bahwa syaithan tidur di lubang hidung manusia. Maka itu usirlah dengan istantsara.

(Abu Dzakira)

Previous Older Entries