MANUSIA BERBELOK TUJUAN

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz Dzariyat (51) : 56).

Menyembah Allah SWT tidak cukup terwujud dengan melaksanakan sholat lima waktu setiap hari. Lalu diluar dari waktu sholat, bebas melakukan aktivitas sesuai selera. Usai sholat, lalu melanjutkan hidup sehari-hari tanpa perduli orang-orang sekitar, yang penting pribadi dan kesenangannya terpenuhi. usai sholat, kembali bermain atau duduk manis di depan televisi . Usai sholat, kembali membuka aurat bagi kaum hawa dilengkapi dengan obrasannya sesama wanita.

Allah memberikan tuntunan hidup yang begitu lengkap dan rapi sejak membuka mata hingga menutup mata kembali. Mengatur hubungan interaksi dengan Sang Khaliq, dengan sesama manusia hingga dengan alam sekitar. Semua aturan yang Allah tetapkan dan anjurkan kepada manusia semata-mata adalah bentuk penyembahan kepada-Nya. Dan Allah SWT menciptakan langit, bumi dan isinya semata-mata untuk manusia agar manusia itu menyembah kepada Allah saja.

Allah SWT berfirman:

“Dia lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit. Lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.” (QS Al Baqarah (2) : 22).

Namun dari masa ke masa, mayoritas manusia melakukan penyimpangan tujuan penciptaannya. Mereka menetapkan tujuan lain selain dari pada penyembahan kepada Yang Maha Pencipta. Tujuan lain itu tak lain adalah apa yang Allah ciptakan, yaitu isi dunia. Dan tujuan selain menyembah Allah itu selalu berkutat di sekitar area “tahta, harta dan wanita”. Padahal semua itu tak lebih hanya penghias dunia.

“Dijadikan indah (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu; wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS Ali Imran (3) : 14).

Pada hakekatnya dunia itu tidak indah, hanya tempat peristirahatan yang sebentar, fana, dan hanya tempat bermain yang memperdayakan, yang ketika waktunya tiba semuanya akan ditinggalkan. Meskipun dunia itu dibuat indah pada pandangan manusia, sehingga apa pun akan dilakukan demi dunia, sehingga manusia lupa diri dan tergila-gila akan dunia (tahta, harta dan wanita), tapi Allah memberitahukan bahwa dunia itu sangat tak berharga.

Dan terakhir Allah mengutus Muhammad Rasulullah Saw sebagai suri teladan yang baik (QS Al Ahzab (33): 21), sebaik-baik contoh hamba yang hidup untuk beribadah kepada Allah semata. Dan membentuk ummat yang langsung terdidik dalam asuhan kenabian. Hingga terbentuk generasi yang sepanjang waktu hanya beribadah menyembah Allah dalam berbagai aktivitasnya, yang disebut “AMAL SHALEH”. Allah selalu menyebutkan berulang-ulang dalam firmannya, yaitu “alladziina aamanuu wa ‘amilushshoolihaati (orang-orang yang beriman dan beramal sholeh)”.

Dan pergeseran tujuan pokok diciptakannya manusia kini terlihat nyaris semuanya terjadi yang dilakukan oleh manusia itu sendiri. Kemana mata memandang, maka terlihat amaliah-amaliah yang hanya menghamba kepada isi dunia. Kabar gembira yang Allah janjikan dan peringatan yang Allah ancamkan tidak mampu menahan kerakusan perut dan syahwat mereka. Diperkuat dengan janji-janji indah syaithan yang hakekatnya adalah semu menjerumuskan. Dan mereka pun lalai akan keniscayaan maut yang berada di atas kepala mereka. Batas halal haram pun mereka robohkan demi mendapatkan ambisi nafsu dunianya. Padahal apa-apa yang mereka lakukan untuk mendapatkan kebahagiaan semu itu justeru menempatkan mereka di dalam kerugian yang nyata.

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan himpunkan nya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha (20): 124).

Kegemilangan dan kesuksesan Rasulullah Saw dan para sahabatnya membentuk “Khaira Ummah”, sebaik-baik ummat dengan pimpinan seorang Nabi dan Rasul yang berkuasa, ummat yang aman dan damai, kehidupan yang makmur, ummat yang loyal berjihad, disegani oleh bangsa kafir, semuanya tercipta karena Rasulullah Saw dan para sahabatnya hidup hanya beribadah kepada Allah. Semua kenikmatan dunia yang Allah berikan kepada Rasulullah Saw dan ummat Islam pada masa itu tak lebih adalah ganjaran yang Allah berikan dari pengabdian lurus ikhlas tersebut.

Rasulullah Saw dan Khulafaur Rasyidin Al Mahdiyin mendapat amanat kekuasaan bukan lantaran mereka berjuang untuk berkuasa, tapi anugerah dari Allah karena mereka beriman dan beramal sholeh. Para sahabat mendapat harta yang berlimpah, bukan sebab mereka semata-mata memburu harta, tapi rizki yang Allah limpahkan karena mereka beriman dan beramal sholeh. Termasuk pendamping hidup yang sholehah yang beberapa dianugerahi isteri lebih dari satu.

Karna Allah telah menjanjikan bagi mereka yang beriman dan beramal sholeh, ketika masih di dunia.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal  sholeh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai_nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan dengan sesuatu apa pun  dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nuur (24): 55).


“Barang siapa mengerjakan amal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka pahala yang lebih baik dari pada apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl (16): 97).

Lengkap sudah janji Allah bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholeh. Tentulah beramal sholeh itu tak boleh atas dasar persepsi ro’yu (akal), tetapi berdasarkan Al Qur’an tanpa perlu menambah-nambahkan.

Dari hudzaifah ra, berkata: Rasulullah Saw bersabda, “Hendaklah kamu sekalian beredar bersama Kitab Allah (Al Qur’an) ke mana saja ia beredar.” (HR Al Hakim, dinyatakan shahih oleh As Suyuti).

Pedoman dasarberiman dan beramal sholeh (menyembah Allah) adalah Al Qur’an. Dan pelaksana Al Qur’an adalah Rasulullah Saw. Dan para sahabat melaksanakan Al Qur’an di bawah instruksi, bimbingan dan pengawasan Rasulullah Saw.  Demikian pula di masa Khulafaur Rasyidin Al Mahdiyin, pelaksanaan penyembahan kepada Allah SWT diinstruksikan, dibimbing, dan dikontrol oleh para khalifah.

Sebagaimana Allah memerintahkan:
“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali (agama/Al Qur’an) Allah (dengan) berjama’ah dan janganlah berpecah- belah….” (QS Ali Imran (3): 103).

Allah melarang melaksanakan Al Qur’an (agama) dengan sendiri-sendiri atau berkelompok-kelompok, tetapi memerintahkan dengan berjama’ah. Berjama’ah artinya ada Imam (pemimpin ummat) dan adanya makmum (ummat).

Jika manusia memenuhi pentujuan diri mereka diciptkan, maka dunia akan datang dengan sendirinya atas kehendak Allah. Akan tetapi, ketika dunia dijadikan tujuan, maka hal itu justeru akan membuat hina dunia dan akhirat.

(abudzakira)

2 Komentar (+add yours?)

  1. Nany suryani
    Jun 22, 2010 @ 08:07:31

    Sesungguhnya Allah menjaga dan membatasi hamba-Nya yang mu’min dari dunia walaupun ia senang kepadanya. sebagaimana kalian menjaga dan membatasi orang sakit dari makanan dan minuman tertentu.(H.R. al Hakim bersumber dari Abi Said)

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: