1 JALAN 1 MILLAH

“Sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, oleh karena itu, ikutilah! Janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain, karena hanya akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al An’am (6): 153).

Dari Shafwan, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Azhar bin Abdillah Al Hauzany, dari Abi Amir Abdullah bin Luhai’ah dari Muawiyyah bin Abi Sufyan ra, bahwasanya ia berdiri di hadapan kami lalu berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah Saw telah berdiri di hadapan kami, lalu beliau bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang yang sebelum kamu dari Ahli Kitab, mereka bercerai berai atas 72 golongan, dan sesungguhnya millah (umat Islam)  ini akan bercerai-berai menjadi 73 millah, 72 dalam neraka dan satu di dalam jannah (surga), yakni Al-Jama’ah.” (HR Abu Daud, shahih).

Allah SWT memerintahkan untuk mengikuti hanya satu jalan dan menjauhi jalan-jalan yang lain selain jalan yang Allah telah tetapkan. Tak ada jalan lain yang dimaksud selain jalan yang telah ditempuh oleh sang suri teladan (uswatun hasanah) (QS Al Ahzab (33) : 21), yaitu jalan Rasulullah Saw.

Dan Rasulullah Saw atas tuntunan wahyu menubuwwahkan bahwa ummat Islam sepeninggal beliau, akan terpecah ke dalam 73 millah (kelompok), 1 millah selamat. 1 millah berarti 1 jalan, tak mungkin 1 millah 2 jalan atau 1 jalan 2 millah. Maka 1 millah yang dimaksud adalah millah yang mengikuti jalan Rasulullah Saw, bukan jalan-jalan yang lain yang sifatnya bercerai berai dalam Islam itu sendiri. Dan disebutkan bahwa 1 millah yang dimaksud adalah Al-Jama’ah. Dan dalam riwayat lain disebutkan Ahli Sunnah wal Jama’ah (Ahli Sunnah dan Berjama’ah).

Jelaslah, setiap millah atau golongan yang berpecah belah dalam Islam mengaku adalah Al-Jama’ah atau Ahli Sunnah wal Jama’ah, mereka tidak akan merasa bahwa millah mereka adalah salah satu bagian dari yang berpecah belah. Sehingga membingungkan bagi orang-orang yang mencari kebenaran dalam alam yang serba menipu ini. Yang manakah 1 millah yang mengikuti jalan Rasulullah Saw, dari semua millah yang mengaku sebagai millah Rasulullah Saw?

Untuk menemukan 1 millah di 1 jalan itu, maka langkah tepat adalah memahami    dan mengenali sifat-sifat Al-Jama’ah yang juga merupakan sifat-sifat jalan Rasulullah Saw.

Ada pun beberapa sifat Al Jama’ah di antaranya:

1.  Hidup hanya untuk beribadah kepada Allah semata (QS Adz Dzariyyat : 56).

2.  Bersatu/berjama’ah

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama/kitab) Allah dengan berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai-berai…” (QS Ali Imran (3): 103).

larangan bercerai berai menunjukkan perintah bersatu (berjama’ah).

3.  Memiliki pemimpin (Ulil Amri) dari orang-orang yang beriman.

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atlah kepada Allah dan ta’atlah kepada Rasul (Nya) dan Ulil Amri di antara kamu….” (QS An NIsaa’ (4): 59)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik)….” (QS Al Maidah (5): 57).

Rasulullah Saw bersabda, “Tetaplah engkau pada Jama’ah Muslimin dan imam (pemimpin) mereka” (HR Bukhari, shahih).

Ulil Amri dalam ayat dan imam dalam hadits di atas menunjukkan adanya pemimpin ummat atau imam yang tentu saja dari kalangan orang-orang yang beriman.  Dan golongan yang bersatu tentu terikat di bawah satu komando satu pemimpin.

4.  Pemimpin diangkat dengan syari’at bai’at.

“Sesungguhnya orang-orang yang berbai’at kepadamu sesungguhnya mereka berbai’at kepada Allah….” (QS Al Fath (48): 10).

Rasulullah Saw bersabda, “Tetapilah bai’atmu pada yang pertama, maka untuk yang pertama dan berikan pada mereka haknya. Maka sesungguhnya Allah akan menanyai mereka tentang hal apa yang diamanatkan dalam kepemimpinannya” (HR Muslim, shahih).

5. Berhukum dengan Al Qur’an dan As Sunnah (Al Hadits).

“….Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Al Hadits), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An Nisaa’ (4): 59).

Dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah Saw bersabda, “….Sesungguhnya aku telah meninggalkan buat kamu, jika kamu berpegang teguh kepadanya, maka tidaklah kamu akan sesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR Al Hakim, shahih).

6.  Ahli Sunnah.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatanga)n) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al Ahzab (33): 21).

“….Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah….” (QS Al Hasyr (59): 7).

7.  Mengikuti sistem kepemimpinan Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah.

Rasulullah Saw bersabda, “Maka hendaklah kamu pegang teguh sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin al-Mahdiyin” (HR Ahmad).

Rasulullah Saw bersabda, “Adalah masa Kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apa bila Dia kehendaki untuk mengangkatnya, kemudian adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak Kenabian (Khilafah ‘ala minhajin Nubuwwah)….” (HR Ahmad dan Baihaqi dari Nu’man bin Basyir dari Hudzaifah ra.).

Khulafaur Rasyidin al-Mahdiyin adalah Abu Bakar ra, Umar bin Khaththab ra, Utsman bin Affan ra dan Ali bin Abi Thalib ra. Sistem Khilafah jelas harus mengikuti sistem kekhilafahan mereka, bukan kekhilafahan kholifah-kholifah yang lain. Dan sangat jelas, Khilafah tidak bisa disamakan dengan kerajaan atau negara.

8.  Amar Ma’ruf Nahi Mungkar.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung” (QS Ali Imran (3): 104).

“Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah” (QS Ali Imran (3): 110).

9.  Melaksanakan Al Qur’an dengan cara Berjama’ah.

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama/Al Qur’an) Allah dengan berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai….” (QS Ali Imran (3): 103).

Ummat Islam dalam melaksanakan Al Qur’an, baik ibadah keseharian, bermuamalah, da’wah, amar ma’ruf nahi mungkar hingga jihad fii sabilillah, harus diatur, dipimpin dan dikontrol oleh seorang pemimpin (imam). Karna yang namanya berjama’ah itu terdiri ada imam dan ada ma’mum.

10. Ulil Amri menerima nasehat/pelurusan dari ma’mum atau selainnya.

“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan nasehat menasehati supaya mentha’ati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS Al ‘Ashr (103): 3).

Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah ridho kepada kamu pada 3 perkara, yaitu:  a) Hendaklah kamu memperibadati-Nya dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun,  b) Hendaklah berpegang teguh dengan tali Allah seraya berjama’ah dan janganlah berfirqah -firqah (bergolong-golongan), dan  c) Dan hendaklah kamu senantiasa menasehati kepada seseorang yang Allah telah menyerahkan kepemimpinan kepadanya dalam urusanmu.” (HR Ahmad – Muslim, shahih Muslim).

Dan masih banyak sifat-sifat Al Jama’ah yang kesemuanya adalah menurut Al Qur’an dan As Sunnah.

Jadi, bukanlah Al-Jama’ah jika ia mengambil sebagian perintah dan meninggalkan sebagian perintah (QS Al Baqarah (2): 208). Bukanlah Al-Jama’ah jika ia mengambil hukum atau aturan selain Al Qur’an dan As Sunnah (QS Al Maidah (5): 44, 45 dan 47). Bukanlah Al-Jama’ah jika mencampur hukum Allah dengan aturan manusia di dalam kehidupannya (QS Al Baqarah (2): 42). Dan bukanlah Al-Jama’ah yang menghalalkan kehormatan dan darah saudaranya tanpa alasan yang benar (QS Al hujurat (49): 10).

Tetapilah Al-Jama’ah dan janganlah berpecah belah dalam agama. Karena,

“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS Ar Ruum: 31-32).

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah).” (QS Al Baqarah (2): 208).

Pertanyaannya adalah : Pilih berjama’ah atau berpecah- belah?

(abudzakira)

1 Komentar (+add yours?)

  1. Nany suryani
    Jun 22, 2010 @ 22:52:14

    Semoga Allah swt. mengokokkan di dalam jiwa kita kepercayaan tauhid dan iman yang benar dan sungguh2 ikhlas, dan semoga menjadikan kita termasuk golongan ahli taat dan kebajikan. dimasukkan pada kaum yang zuhud, wara dan takut (khauf) akan keagungan Allah swt. Amin…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: