SHAFIYYAH BINTI HUYAI

(ISTRI CANTIK DARI KETURUNAN PARA NABI)

Shafiyyah binti Huyai binti Akhthan bin Sa’yah adalah cucu dari Al-Lawi bin Nabiyullah Israel bin Ishaq bin Ibrahim ‘Alaihi wa Salam, termasuk keturunan Rasulullah Harun ‘Alaihi wa Salam.

Berasal dari Yahudi Khaibar. Ayahnya adalah pengemuka Yahudi yang sangat membenci Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, suatu hari Shafiyyah mendengar pamannya berkata pada ayahnya, ‘apakah engkau yakin dia(Rasulullah)lah orangnya?’ Huyay (ayah Shafiyah) menjawab ‘ya. Demi Allah.’ Paman Shafiyyah berkata lagi ‘apakah engkau telah mengenali ciri-cirinya dan membuktikannya?’ Huyay menjawab ‘ya.’ Sang paman melanjutkan ‘lantas apa sikapmu?’ Huyay menjawab ‘Demi Allah, aku akan memusuhinya sepanjang hidupku.’

Huyay bin Akhtab merupakan salah satu penghianat Rasulullah yang berasal dari kaum Yahudi, pemimpin besar bani Nadzir sekaligus salah seorang penjahat Perang Ahzab, dan bergabung dengan bani Quraizhah. Atas penghianatan dan kejahatanya itulah, maka dia digiring ke tempat eksekusi dan dengan sebuah tebasan pedang, hidupnya pun berakhir. Setelah terjadi eksekusi tersebut, tak berapa lama kemudian terjadilah Penggempuran kaum Muslimin ke benteng-benteng Khaibar yang terkenal kokoh. Perang tersebut di beri nama Perang Khaibar. Huyay bin Akhtab adalah orang terpandang di kalangan Yahudi dan hidup dengan segala gelimang kenikmatan. Namun bagi Shafiyyah, kenikmatan hakiki adalah kenikmatan hati, bukan kenikmatan materi.

Al-Hafidz Abu Nu’aim mensifatkan, “Shafiyyah merupakan wanita yang bertakwa, bersih, dan matanya selalu basah karena menangis. Shafiyyah sang wanita yang memiliki jiwa yang jernih, beliau adalah istri Nabi Muhammad saw.” Pada awalnya Shafiyyah menikah dengan Salam bin Abul Huqaiq, setelah Salam meninggal, beliau kemudian menikah dengan Kinanah bin Abul Huqaiq. Kedua suaminya itu merupakan penyair hebat dari kalangan Yahudi. Kinanah suaminya yang kedua dibunuh dalam perang Khaibar, maka beliau termasuk wanita yang ditawan bersama wanita-wania lain. Bilal “Muadzin Rasululllah” menggiring Shafiyyah dan putri pamannya.

Mereka melewati tanah lapang yang penuh dengan mayat-mayat orang Yahudi. Shafiyyah diam dan tenang dan tidak kelihatan sedih dan tidak pula meratap mukanya, menjerit dan menaburkan pasir pada kepalanya.

Kemudian keduanya dihadapkan kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam, Shafiyyah dalam keadaan sedih namun tetap diam, sedangkan putri pamannya kepalanya penuh pasir, merobek bajunya karena merasa belum cukup ratapannya. Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda (sedangkan tersirat rasa tidak suka pada wajah beliau): “Enyahkanlah syetan ini dariku.”

Kemudian beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Salam mendekati Shafiyyah kemudian mengarahkan pandangan atasnya dengan ramah dan lembut, kemudian bersabda kepada Bilal bin Rabbah yang membawa kedua tawanan wanita itu:

“Wahai Bilal aku berharap engkau mendapat rahmat tatkala engkau bertemu dengan dua orang wanita yang suaminya terbunuh.”

Selanjutnya Shafiyyah dipilih untuk beliau dan beliau mengulurkan selendang beliau kepada Shafiyyah, hal itu sebagai pertanda bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam telah memilihnya untuk dirinya. Hanya kaum muslimin tidak mengetahui apakah Shafiyyah di ambil oleh Rasulullah sebagai istri atau sebagai budak atau sebagai anak? Maka tatkala beliau berhijab Shafiyyah, maka barulah mereka tahu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam mengambilnya sebagai istri. Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Anas radhiallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah tatkala mengambil Shafiyyah binti Huyai beliau bertanya kepadanya, “Maukah engkau menjadi istriku?” Maka Shafiyyah menjawab, “Ya Rasulullah sungguh aku telah berangan-angan untuk itu tatkala masih musyrik, maka bagaimana mungkin aku tidak inginkan hal itu manakala Allah memungkinkan itu saat aku memeluk Islam?”

Kemudian tatkala Shafiyyah telah suci Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam menikahinya, sedangkan maharnya adalah merdekanya Shafiyyah. Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam menanti sampai Khaibar kembali tenang. Setelah beliau perkirakan rasa takut telah hilang pada diri Shafiyyah, beliau mengajaknya pergi Shafiyyah yang beliau bawa di belakang beliau, kemudian beranjak menuju ke sebuah rumah yang berjarak enam mil dari Khaibar. Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam menginginkan diri Shafiyyah ketika itu, namun dia menolaknya. Ada rasa kecewa pada diri Nabi karena penolakan tersebut.

Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam melanjutkan perjalanannya ke Madinah bersama bala tentaranya, tatkala mereka sampai di Shabba’ jauh dari Khaibar mereka berhenti untuk beristirahat. Pada saat itulah timbul keinginan untuk merayakan walimatul ‘urs. Maka didatangkanlah Ummu Anas bin Malik radhiallaahu ‘anha, beliau menyisir rambut Shafiyyah, menghiasi dan memberi wewangian hingga karena kelihaian dia dalam merias, Ummu Sinan Al-Aslamiyah berkata bahwa beliau belum pernah melihat wanita yang lebih putih dan cantik dari Shafiyyah. Maka diadakanlah walimatul ‘urs.

Tsabit berkata kepada Anas, “Wahai Abu Hamzah, apa mahar yang diberikan oleh Rasulullah saw. kepada Shafiyyah?” Anas menjawab, “Dirinya sendiri (kehormatannya). Rasulullah saw. memerdekakannya lalu menikahinya. Ketika dalam perjalanan pulang Ummu Sulaim mempersiapkan Shafiyyah, lalu menyerahkannya kembali kepada beliau di malam hari, sehingga paginya Rasulullah saw. menjadi pengantin. Saat itu beliau berkata, ‘siapa yang mempunyai kelebihan makanan, hendaknya membawanya kepadaku.’ Beliau menghamparkan kulit kering, lalu datanglah sahabat dengan membawa keju, ada pula yang membawa kurma,  dan ada pula yang membawa minyak samin. Makanan itu dicampur, dan dijadikan hais. Itulah walimah pernikahan Rasulullah saw. dengan Shafiyyah.” (di riwayatkan oleh Muslim, 84/1365, kitab An-Nikaah)

Maka kaum muslimin memakan lezatnya kurma, mentega dan keju Khaibar hingga kenyang. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam masuk kekamar Shafiyyah sedangkan masih terbayang pada beliau penolakan Shafiyyah tatkala ajakan beliau yang pertama, maka Shafiyyah menerima Nabi untuk menjalani malam pertama dengan lembut beliau menceritakan sebuah cerita yang menakjubkan. Beliau bercerita bahwa tatkala malam pertamanya dengan Kinanah bin Rabi’, pada malam itu beliau bermimpi bahwa bulan telah jatuh kekamarnya. Tatkala bangun beliau ceritakan hal itu kepada Kinanah. maka dia berkata dengan marah:”Mimpimu tidak ada takwil lain melainkan kamu berangan-angan mendapatkan raja Hijaz Muhammad. Maka dia tampar wajahnya beliau dengan keras sehingga bekasnya masih ada, Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam mendengarnya sambil tersenyum kemudian bertanya,”Mengapa engkau menolak dariku tatkala kita menginap yang pertama? “Maka beliau menjawab, ‘Saya khawatir terhadap diri anda karena dekat Yahudi. Maka menjadi berseri-serilah wajah Nabi yang mulia serta lenyaplah kekecewaan hatinya maka Nabi melewati malam pertamanya tatkala Shafiyyah berumur 17 tahun.

Tatkala rombongan sampai di Madinah Rasulullah perintahkan agar pengantin wanita tidak langsung di ketemukan dengan istri-istri beliau yang lain. Beliau turunkan Shafiyyah di rumah sahabatnya yang bernama Haritsah bin Nu’man. Ketika wanita-wanita Anshar mendengar kabat tersebut, mereka datang untuk melihat kecantikannya. Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam memergoki ‘Aisyah keluar sambil menutupi dirinya serta berhati-hati (agar tidak dilihat Nabi) kemudian beliau masuk kerumah Haritsah bin Nu’man. Maka beliau menunggunya sampai ‘Aisyah keluar. Maka tatkala beliau keluar, Rasulullah memegang bajunya seraya bertanya dengan tertawa, “bagaimana menurut mendapatmu wahai yang kemerah-merahan?”‘Aisyah menjawab sementara cemburu menghiasi dirinya, “Aku lihat dia adalah wanita Yahudi.”Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam membantahnya dan bersabda: “Jangan berkata begitu….karena sesungguhnya dia telah Islam dan bagus keislamannya.”

Selanjutnya Shafiyyah berpindah ke rumah Nabi menimbulkan kecemburuan istri-istri beliau yang lain karena kecantikannya. Mereka juga mengucapkan selamat atas apa yang telah beliau raih. Bahkan dengan nada mengejek mereka mengatakan bahwa mereka adalah wanita-wanita Quraisy, wanita-wanita Arab sedangkan dirinya adalah wanita asing.

Bahkan suatu ketika sampai keluar dari lisan Hafshah kata-kata, “Anak seorang Yahudi” hingga menyebabkan beliau menangis. Tatkala itu Nabi masuk sedangkan Shafiyyah masih dalam keadaan menangis. Beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Beliau menjawab, Hafshah mengatakan kepadaku bahwa aku adalah anak seorang Yahudi. Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya engkau adalah seorang putri seorang Nabi dan pamanmu adalah seorang Nabi, suamipun juga seorang Nabi lantas dengan alasan apa dia mengejekmu?” Kemudian beliau bersabda kepada Hafshah, “Bertakwalah kepada Allah wahai Hafshah!”

Maka kata-kata Nabi itu menjadi penyejuk, keselamatan dan keamanan bagi Shafiyyah. Selanjutnya manakala dia mendengar ejekan dari istri Nabi yang lain maka diapun berkata: “Bagaimana bisa kalian lebih baik dariku, padahal suamiku adalah Muhammad, ayahku adalah Harun dan pamanku adalah Musa?”

KEPRIBADIAN SHAFIYYAH radhiyallahu ‘anha.

Di antara akhlak mulia Shafiyyah radhiyallahu ‘anha, adalah:

a.       Senang memberi hadiah

Ibnu Al-Musayyib berkata, “Shafiyyah mempunyai anting-anting emas yang terpasang dikedua telinganya. Ia memberikannya kepada Fatimah radhiyallahu ‘anha dan kepada wanita-wanita lain yang sedang bersamanya.”(Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad, Vol 8 hlm 127. Al-Arna’uth berkata, “Perawinya tsiqah”).

b.      Cerdas dan pintar

Salah satu yang menjadi bukti kecerdasan dan kepintaranya adalah perbuatanya memberikan hadiah kepada Fatimah dan para wanita lain. Ia tahu betul, bahwa hadiah akan memeberikan kesan yang mendalam di hati setiap orang yang diberinya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

تَهَادَوْا تَحَابُّوْا

“hendaknya kalian saling berbagi hadiah, niscaya kalian saling mencintai.” (hr. Abu Ya’la dari Abu Hurairah. Al-Albani menyatakan Hadits ini hasan dalam kitab Shahiihul jaami’, no. 3004)

c.      Berhati lembut

Shafiyyah sering menangis ketika tertimpa musibah, maupun ketika mendapat penghinaan. Beliau menjaga perkataannya dalam keadaan atau situasi yang tidak menyenangkan, sehingga hanya dapat menangis.

d.      Berhati bersih, jiwa yang jernih, dan jujur

Zaid bin Aslam menuturkan bahwa ketika Rasulullah jatuh sakit yang kemudian mengantarkan ajalnya, Shafiyyah binti Huyay radhiyallahu ‘anha berkata, “Wahai Nabi, sesungguhnya aku lebih senang jika penyakit yang menimpamu itu pindah ke tubuhku.” Istri-istri Nabi yang lain saling memberi isyarat setengah mencibirnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menatap mereka, lalu berkata, “Muntahkanlah.” Mereka berkata “Apa yang harus kami muntahkan?” Beliau berkata, “Cibiran kalian terhadap Shafiyyah itu. Demi Allah, Ia telah berkata jujur kepadaku.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad, vol. 8 hlm. 128. Para perawinya tsiqah, tapi mursal)

e.       Berkedudukan tinggi  dimata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Kesaksian Rasulullah pada riwayat poin d, yang telah bersaksi “Demi Allah, ia telah berkata jujur kepadaku”. Menunjukkan bukti keagungan Ummul Mukminin Shafiyyah radhiyallahu ‘anha.

Ketika beri’tikaf Shafiyyah menemui Rasulullah dan berbincang dengannya. kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengantarkan Shafiyyah kembali ke rumahnya (mengantar tanpa meninggalkan masjid tempat beri’tikaf). Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata, “Sesungguhnya setan mengikuti manusia (untuk menggodanya) seperti aliran darah. Aku takut dia telah meletakkan suatu kejahatan di dalam hatimu.” (Diriwayatkan oleh Muslim, 24/2175. kitab As-Salaam)

f.       Taat kepada Allah dan berusaha mengejar ketertinggalannya

Shafiyah mempergunakan setiap waktunya untuk beribadah kepada Allah. Shafiyyah radhiyallahu ‘anha meneguk air wahyu secara langsung dari sumbernya yang murni. Ia mempelajari akhlak, petunjuk, kasih sayang, kecerdasan, dan ilmu pengetahuan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ia sangat tekun menghafal sebagian besar ayat-ayat Al-Qur’an dan meriwayatkan sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada wanita-wanita yang ada di sekitarnya, sebagai pengamalan dari firman Allah Subhana Wa Ta’ala:

“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut dan Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ahzab: 34)

g.    Istiqomah dan memegang komitmen

Setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam wafat, Shafiyyah radiyallahu ‘anha tetap memegang komitmennya untuk menjadi istri beliau yang baik, sehingga ia terus berpuasa dan beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Shafiyyah tetap menjalin hubungan yang baik kepada kerabatnya yang beragama Yahudi yang tidak memerangi agama Islam.

Ketika Shafiyyah mendapatkan perlakuan tidak adil dari budak wanitanya, beliau memaafkanya dan justru memerdekakanya. Meskipun sebenarnya Shafiyyah mampu membalas ketidak adilan tersebut, namun beliau memilih untuk memaafkannya dan memerdekakanya. Ia telah belajar sikap memaafkan kesalahan dari pemilik hati yang lembut dan agung, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sikap seperti ini mendapat pujian dari Allah Subahana Wa Ta’ala. Sebagaimana dalam firman-Nya;

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Ali Imran: 134)

h.      Tidak suka pada perbuatan zhalim

Kinanah, pembantu Shafiyyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Aku menuntun kendaraan Shafiyyah ketika hendak membela Utsman radhiyallahu ‘anhu. Kami dihadang oleh Al-Asytar (pemimpin kelompok kufah yang memberontak kepada khalifah Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu), lalu ia memukul wajah keledainya hingga miring. Melihat hal itu Shafiyyah berkata, ‘Biarkan aku kembali, jangan sampai orang ini mempermalukanku.’ Kemudian Shafiyyah membentangkan kayu antara rumahnya dengan rumah Utsman guna menyalurkan makanan dan air minum.” (Al-Ishaabah, vol 4 hlm 339, Tabaaqat Ibnu Sa’ad, vol 8 hlm. 128, dan Syi’ar A’laam An-Nubalaa’, vol. 2 hlm 237. al-Arna’uth berkata, “Perawinya tsiqah.”)

Shafiyyah radhiallaahu ‘anha wafat tatkala berumur sekitar 50 tahun, ketika masa pemerintahan Mu’awiyah. Beliau dikuburkan di Baqi’ bersama Ummahatul Mukminin. Semoga Allah meridhai mereka semua.

(abudzakira: “nasehati aku”)

3 Komentar (+add yours?)

  1. adnan
    Agu 28, 2010 @ 09:54:25

    subhanallah, kisah ini begitu mengagumkan ya Allah …

    Balas

    • abudzakira
      Agu 28, 2010 @ 10:24:45

      dan salah satu tabiat orang cerdas adalah orang-orang yang belaajar dari kisah-kisah orang-orang sebelumnya. Karana Al Qur’an pun mengajarkan dan mengabarkan kisah-kisah orang terdahulu

      Balas

  2. ummushofiyatu
    Agu 28, 2010 @ 12:58:10

    subhanallah,
    saking cintax ana dgn ibunda yg satu ini.putri pertama ana bernama shofiyyah
    semoga putri kecilku bs meneladani beliau.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: