Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah Sebagai Solusi Kembalinya Al-Aqsha Kepada Muslimin

  • Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah Sebagai Solusi Kembalinya Al-Aqsha Kepada Muslimin
    Oleh KH.Abul Hidayat Saerodjie

    والذين كفروا بعضهم أولياء بعض إلا تفعلوه تكن فتنة في الأرض وفساد كبير
    “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfaal: 73)

    I. MUKADDIMAH
    Penguasaan Zionis Israel terhadap Palestina dan Masjid Al-Aqsha adalah indikasi lemah dan tidak berdayanya umat Islam di abad 21 ini. Indikasi ini diperkuat dengan adanya beberapa penyebab yaitu:
    Pertama, Faktor Eksternal.
    Adanya komplotan jahat Zionis Israel yang didukung negara adi daya AS dan Eropa mengadakan ekspansi dan menguasai Palestina dalam rangka mewujudkan mimpi jahatnya membangun Negara Israel Daud Raya yang wilayahnya meliputi Sungai Nil disebelah Selatan hingga sungai Euprat di Utara. Minimalnya bisa mencamplok Negara Palestina yang di dalamnya ada Masjid Al-AQSha kiblat pertama umat Islam. Ini adalah harga mati yang harus diperjuangkan hidup atau mati bagi Zionis Israel. Mereka selama ribuan tahun menjadi bangsa yang terkutuk dan terusir tidak mempunya negara. Oleh karenanya dengan segala cara mereka melakukan teror kejam, membunuh, merampas, menipu, mengusir dan memerangi Muslim Palestina untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
    • Invasi dan Infiltrasi pemikiran (westernisasi)
    – Paham Sekulerisme
    Dalam arti Un Relegious, tidak agamis atau anti agama, merupakan karya orang-orang Yahudi untuk mengaburkan kebenaran Islam dan pendangkalan aqidah sehingga lambat laun umat Islam keluar dari aqidah dan pengamalan syariat agamanya. 

    – Paham Nasionalisme.
    Paham nasionalisme yang di export ke negeri-negeri Islam dibarengi dengan fanatisme kebangsaan yang sempit (ashobiyah) dan usaha deislamisasi dalam praktek kehidupan. Meniadakan syariat dalam hukum dan undang-undang. Paham ini diekspos besar-besaran guna memotong-motong dan membelah umat Islam menjadi serpihan dan potongan-potongan kebangsaan sempit. Interes nasional menjadi dasar utama pengambilan kebijaksanaan negara masing-masing, sekalipun harus mengorbankan aqidah dan ukhuwah Islamiyah.

    Usai Perang Dunia II Imperalisme Inggris sangat khawatir akan munculnya persatuan umat Islam di bawah ke khilafahan. Mentri luar negeri Inggris pada saat itu langsung menyerukan untuk menyokong dan memperkuat paham nasionalisme Arab (Pan Arabisme) untuk menggantikan gerakan Pan Islamisme (Kesatuan Dunia Islam).

    – Paham Existensialisme
    Paham ini dicetuskan oleh Jean Paul Sartre, seorang tokoh filsafat keturunan Yahudi. Filsafat ini berkembang di Prancis dan kemudian disebarluaskan ke negeri-negeri Islam. Dengan seruan kebebasan. Bebas mutlak dari ikatan ajaran agama dan nilai-nilai akhlaq. Akibatnya, lahirlah pemuda-pemuda urakan seperti kelompok Gypsy kelompok yang berpakaian semaunya, Hippies, Nudis dan lain-lain.

    Mereka mengekspresikan hidup sebebas-bebasnya, mengikuti nafsu syahwat yang bergelimang dengan maksiat dan dosa. Pergaulan bebas, pornografi dan porno aksi, adegan-adegan abnormalisme yang mereka sebar luaskan melewati buku-buku, mass media cetak maupun elektronik. Semua mereka lakukan untuk menghancurkan moral dan aqidah umat Islam khususnya para generasi muda.

    – Paham Marxisme
    Paham ini dicetuskan oleh Karl Marx. Dalam pandangan hidupnya dititikberatkan penonjolan essay ekonomi, seperti yang dia katakan: “Sejarah perkembangan manusia adalah cerita manusia mencari makan.” Dalam manifestonya dia mencatat pendirian Komunis karena: “Keperluan manusia yang pertama adalah makanan, tempat tinggal, dan seks. Agama adalah obat bius bagi manusia.”

    Kita anti terhadap paham marxisme, komunisme, tetapi dalam praktek kehidupan sehari-hari kita telah menjadi penganut setianya. Allah disebut sebagai Tuhannya, tetapi dia telah bersimpuh di bawah kepentingan benda. Berfikir pragmatis dan materialistis. Harta benda, kesenangan syahwat mengalahkan syariat agamanya. Yahudi (Karl Marx) mencetuskan falsafah komunisme sebagai sebuah strategi invasi pemikiran untuk menghancurkan aqidah umat Islam.

    Kedua, Faktor Internal.
    Faktor internal kelemahan umat Islam, ditandai adanya:
    • Umat Islam tidak konsekwen terhadap agamanya. Tahan dan tabah menghadapi peperangan fisik, tapi lemah menghadapi “serbuan pemikiran, serbuan budaya dan invasi idiologi pemikiran” sehingga umat Islam sedikit-demi sedikit meninggalkan agamanya (Al Qur’an dan As Sunnah). Perhatikan firman Allah SWT berikut;

    يا أيها الذين آمنوا إن تطيعوا فريقا من الذين أوتوا الكتاب يردوكم بعد إيمانكم كافرين
    “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.” (QS. Ali Imran: 100)

    • Muslimin berfirqoh-firqoh, berpecah-belah menyebabkan mudah di adu domba dan dikoyak-koyak kekuatannya.
    وأطيعوا الله ورسوله ولا تنازعوا فتفشلوا وتذهب ريحكم واصبروا إن الله مع الصابرين
    Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al Anfal: 46)

    • Tidak adanya sentral kepemimpinan bagi Dunia Islam yang disyariatkan dan dicontohkan oleh pola kepemimpinan para Nabi dan Khulafaur Rasyidin Al Mahdiyin. Rasulullah Shallallah Alaihi Wasallam menyebutnya “KHILAFAH ‘ALA MINHAJIN NUBUWWAH” yaitu pola kepemimpinan yang mengikuti jejak kenabian yang harus diamalkan umat Islam sebagaimana sabdanya:

    ثم تكون خلا فة على منهاج النبوة ثم سكت…
    “….Kemudian kamu akan berada pada masa ke khilafahan yang mengikuti jejak kenabian, kemudian beliau (Nabi) diam.” (HR. Ahmad dari Nu’man bin Basyir / Musnad Ahmad IV/273, Baihaqi / Misykatul Mashobih hal. 461 – Lafadz Ahmad)

    II. RUNTUHNYA KEKHILAFAHAN BENCANA TERBESAR BAGI DUNIA ISLAM.

    Satu peristiwa tragis yang merupakan bencana terbesar bagi dunia Islam yang dilupakan muslimin adalah runtuhnya kekhilafahan Islam yang terjadi pada 3 Maret 1924 M. Secara resmi kekhilafahan Islam dibubarkan oleh seorang pemberontak yang bernama Mustafa Kemal Attaturk, seorang pencetus dan pendiri gerakan politik Al-Ittihad wa al-Taraqqi yang bersifat Nasionalis Sekuler. Sejak berdiri tahun 1909, gerakan politik ini memiliki misi;
    1. Menjauhkan diri dari kesatuan dan persatuan Islam dan Umat Islam.
    2. Menghancurkan kekhilafahan dunia Islam.
    3. Memperjuangkan Turki menjadi Negara sekuler.

    Mustafa Kemal Attaturk adalah seorang Yahudi agen Inggris. Sejak itu Mustafa Kamal Attaturk meghapus seluruh institusi keagamaan. Undang-undang berdasarkan syari’at Islam diganti dengan hukum adat (Syari’at Atiqat) bahkan diganti seluruhnya dengan hukum positif model Swiss dan Hukum Pidana ala Italia. Hari libur Jum’at diganti menjadi Minggu. Kalender Hijriyah diganti dengan kalender Miladiah. Jumlah Masjid dan Khatib dibatasi, bahkan menutup dua masjid kebanggaan di Istambul, Masjid Raya Al-Fatih yang kemudian dijadikan gudang dan Masjid Aya Shopia dijadikan Musium.
    Westernisasi digalakkan di seluruh negeri. Poligami dilarang dan jubah/jilbab diganti dengan pakaian model barat. Huruf arab dihapus diganti dengan huruf latin, demikian juga bahasa Arab.
    Inilah keberhasilan perjuangan Yahudi dengan konspirasi Barat yang sangat “gemilang” telah tercatat dalam sejarah dan merupakan tragedi terbesar bagi dunia Islam. Karena sejak masa kenabian yang dilanjutkan masa Khulafaur Rasyidin / Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah, hingga masa kekhilafahan Bani Umayah, Bani Abbasiyyah dan kekhilafahan Turki Utsmani selama 13 abad lamanya umat Islam selalu hidup terpimpin, kekhilafahan menjadi sebuah institusi yang memberikan perlindungan dan pelayanan umat, tidak saja kepada umat Islam tetapi juga bagi umat non muslim lainnya. Wilayahnya pernah meliputi hampir 2/3 bagian dunia.
    Dengan kekhilafahan terbukti mampu menyatukan semua etnis dan melebur panatisme (ashobiyah) kebangsaan yang sempit. Mereka diikat oleh suatu ikatan yang kokoh (urwatul wutsqo) yang disebut dengan Ukhuwah Islamiyah dengan landasan aqidah Laa Ilaaha Illallah. Wilayahnya meliputi berbagai bangsa di dunia, sebelah utara meliputi wilayah Kaukasus sampai semenanjung Krimea, sebelah timur meliputi Xinjiang, wilayah China barat, sebelah barat meliputi Timur Tengah, Mesir, Afrika Utara sampai Maroko dan Spanyol. Di sebelah selatan sampai ke India dan Asia selatan.
    Hingga pada puncak kejayaannya (tahun 800 M s/d 1600 M), institusi kekhilafahan mampu menciptakan peradaban dan kesejahteraan bagi umat manusia, kebangkitan sains dan teknologi telah nyata menjadi konstribusi terbesar dan sangat berarti bagi peradaban sains dan teknologi di abad millenium ketiga ini, sehingga sulit pada saat itu mencari orang yang mau menerima zakat (orang miskin/pen).
    Carlenton S. menyatakan: “Peradaban Islam merupakan peradaban yang paling besar di dunia yang sanggup menciptakan sebuah “Negara Adidaya Kontinental”
    Continental Super State yang terbentang dari satu samudra kesamudra yang lain. Tentaranya merupakan gabungan dari berbagai bangsa yang melindungi perdamaian dan kemakmuran yang belum pernah dikenal sebelumnya. (Ceramah, 26 September 2001 dengan judul “Tekhnologi, Busines and Our Way of Life: What Next.”)
    Runtuhnya sistem kekhilafahan di Dunia Islam melahirkan berbagai macam krisis, tidak hanya menimpa Umat Islam, tetapi juga terhadap umat manusia di dunia. Pertentangan kelas, ketidak adilan dan kejahatan kemanusiaan terus bergulir semakin merebak menjadikan dunia terus bergolak tiada henti.

    DUNIA TANPA KHILAFAH

    Konspirasi jahat Yahudi dan Imperalis Barat tidak hanya sampai pada tumbangnya kekhilafahan bagi Dunia Islam semata, strategi berikutnya dilanjutkan dengan upaya penaklukan dunia Islam melewati penyerbuan Imperalisme dan Kolonialisme Barat ke negeri-negeri Islam. Ada dua sasaran utama yang dilakukan Barat, yaitu:
    1. Mengexploitir kekayaan dan sumber daya alam.
    2. Menghancurkan Islam dengan Westernisasi melewati Ghazwul Fiqri (perang intelektual). Penyebaran paham Sekularisme dan Liberalisme, tujuannya tidak lain adalah deislamisasi dalam praktek kehidupan dan menggantinya dengan pola pikir sekuler dan liberal.

    Dalam hal ini konspirasi jahat kaum imperalisme bekerja sama dengan kaum salibis yang sangat ambisius untuk memurtadkan Umat Islam.

    Sebelum Perang Dunia Pertama, menurut Veit Valentin, Eropa telah mempetak-petakan dunia untuk menjadi wilayah mereka. Koloni (daerah jajahan) Inggris berjumlah 50, Perancis 22 koloni, Belanda 4 koloni, Portugis 8 koloni, Spanyol 4 koloni, Rusia 4 koloni, Amerika serikat 5 koloni, Itali 4 koloni, Denmark 5 koloni, dan Jerman 8 koloni.

    Meskipun dasar ‘Supermasi putih’ keserakahan ekonomi adalah faktor-faktor penting yang mendorong perkembangan imperalisme, namun faktor utama adalah nafsu jahat untuk membasmi Islam. Meskipun tujuan ekonomi makin mendesak tujuan Agama, menduduki negara–negara Islam oleh Eropa (Barat) berarti permulaan dari suatu upaya dasyat untuk mengkristenkan rakyat Asia dan Afrika, seperti dikatakan oleh Livingstone: “Tujuan dan akhir dari penaklukan geographis adalah permulaan perusahan misi Kristen,”
    Lembaran sejarah hitam kemanusiaan yang ditoreh berlumuran darah oleh konspirasi imperalisme Barat dan gereja ini sering dilupakan oleh Umat Islam, bahwa kaum Salibis atau Misionaris dalam mengembangkan agama Kristen di Negeri-negeri Islam adalah bersama-sama dengan penyerbuan jahat Imperalis dan Kolonialis Barat.

    Seperti yang pernah dikatakan oleh Raja Muda dari GOA: “Orang-Orang Portugis telah memasuki India (negeri jajahan, termasuk Malaysia dan Indonesia) dengan pedang ditangan kanannya dan salib ditangan kirinya, akan tetapi ketika mereka menemui terlampau banyak emas, maka salib itupun dilepaskan supaya tangan mereka dapat mengisi kantong-kantong mereka.”

    Maka tidak heran jika sikap dan prilaku Barat pada umumnya masih menyimpan watak Kolonialisme dan Imperalisme walau mereka tidak lagi menggunakan cara-cara lama, karena merasa dianggap tidak manusiawi dan melanggar HAM, serta berlawanan dengan pola pikir manusia modern. Maka, di abad Melanium ini mereka merubah pola Imperalis dan Kolonialisme dengan kemasan baru yang disebut dengan Globalisasi Perdagangan dunia, padahal sebenarnya adalah pengejawantahan dari mega kapitalisme baru, sedangkan dibidang politik dan budaya mereka menggunakan Hegemoni sebagai cara untuk menanamkan pengaruh terhadap negeri–negeri berkembang yang nota bene kebanyakan adalah negeri Islam. Sebuah sistem penjajahan terselubung yang dipaksakan kepada negara-negara miskin dan berkembang, intinya tetap sama yakni penguasaan dibidang politik, ekonomi dan budaya.

    III. KEJAYAAN DAN KERIDHOAN ALLAH KEPADA UMAT ISLAM. BILA MUSLIM KEMBALI KEPADA KHILAFAH ALA MINHAJIN NUBUWWAH.

    Jaminan Allah:

    والذين كفروا بعضهم أولياء بعض إلا تفعلوه تكن فتنة في الأرض وفساد كبير
    “Adapun orang-orang kafir sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu (bersatu) niscaya akna terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al Anfal: 73)

    Ayat ini sebuah penegasan jika muslimin tidak bersatu dalam satu kesatuan yang saling melindungi dan kuat-menguatkan, kal jasadil wahid maka yang terjadi adalah kerusakan dan fitnah merusak sendi-sendi kehidupan. Ini terbukti, setelah runtuhnya Kekhilafahan dunia Islam. Maka seluruh sendi kehidupan menjadi rusak oleh sekenario global Yahudi. Kemaksiatan, pornografi dan pornoaksi, peperangan, penindasan dan penguasaan Masjid Al AQSha serta pembunuhan dan pembantaian khususnya terhadap umat Islam terjadi dimana-mana. Maka kejayaan bagi umat Islam dalam jaminan Allah jika muslimin bersatu.

    Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW:

    عن ثوبان قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إن الله زوى إلى الأرض فرأيت مشارقها ومغا ربها، وإن أمتى سيبلغ ملكها ما زوى لى منها، وأعطيت الكنزين الأحمر والأبيض، وإنى سألت ربى لأمتي ألا يسلط عليهم عدوا من سوى أنفسهم فيستبيح بيضتهم، وإن ربي قال يا محمد إنى إد ا قضيت قضاء فإنه لايرد، وإنى أعطيتك لأمتك إلا أهلكهم بسنة عامة وإلا أسليط عليهم عدوا من سوى أنفسهم يستبيح بيضتهم ولو اجتمع عليهم من بأقطارها أوقال من بين أقطارها حي يكون بعضهم يهلك بعضا، ويسبى بعضهم بعضا. (الحد يث رواه مسلم، فى صحيحه)

    “Dari Tsauban ra., katanya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah ridha telah memperlihatkan kepadaku (peta) bumi secara keseluruhan, sehingga aku dapat melihat bumi sebelah Timur dan Barat. Dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan sampai keseluruh tempat yang telah diperlihatkan Allah kepadaku. Kepadaku diberikan dua macam perbendaharaan, yaitu merah dan putih. Aku memohon kepada Tuhanku untuk menolong umatku agar mereka tidak dibinaskan dengan musim susah yang panjang, (azab secara massal) dan agar mereka tidak di jajah (kecuali) oleh mereka sendiri, yang menghalalkan kehormatan mereka sendiri. Dan sesungguhnya Allah Tuhanku berfirman:

    “Ya Muhammad! Apabila Aku telah memutuskan suatu putusan, maka putusan-Ku tidak dapat diubah lagi. Aku memperkenankan doamu untuk umatmu, bahwa mereka tidak akan binasa dengan musim susah yang panjang. Dan Aku tidak akan menjajahkan kepada mereka suatu kekuatan musuh selain diri mereka sehingga kekuatan mereka hancur luluh, sekalipun musuh-musuh mereka bersatu mengelilingi, kecuali bila sebagian mereka membinasakan yang sebagian dan mereka saling lawan-melawan.” (HR. Muslim)
    Ayat dan hadits Rasulullah tersebut menegaskan, jika umat Islam tidak kompak dan bersatu, saling menindas diantara sebagian yang lain bahkan mereka ta’asub pada kelompok dan kebangsaan yang sempit, maka umat Islam akan menjadi lemah dan hilang kekuatannya. Musuh-musuh Islam dengan mudah akan menguasai negeri-negeri muslim. Baik secara fisik melewati penjajahan seperti Zionis Israel terhadap Palestina dan Masjid Al Aqsha, maupun secara non fisik melewati hegemoni yakni penjajahan dibidang ekonomi, pengaruh dan ideologi. Secara fisik, mengakui dirinya sebagai muslim tetapi ideologi pemikiran berkiblat dan diatur bahkan ditentukan oleh Barat (Yahudi). Ini yang disebut dan dikhawatirkan sebagai DAKHON, penyakit kehinaan dan kelemahan sehingga besarnya muslimin hanya seperti tumpeng yang dikepung oleh orang-orang lapar, akibatnya hilang jaminan Allah SWT.
    KEMBALI KEPADA KHILAFAH ALA MINHAJIN NUBUWWAH
    Solusi mendasar bagi kejayaan Islam dan muslimin serta kembalinya Masjidil Aqsha kepangkuan muslimin adalah bila umat Islam kembali mengamalkan satu jama’ah muslimin dan satu imaam bagi seluruh muslimin.
    Beberapa ayat dan hadits Rasulullah SAW menegaskan bahwa,
    – Dalam QS. Al Maidah: 55-56, menyebutkan kepemimpinan muslimin adalah Allah, Rasul dan orang-orang beriman. Mereka itulah yang akan mendapat kemenangan.
    – QS. Asy Syuro: 13, Ali Imron: 103-105, Al Mu’minin: 52,54. Pada ayat-ayat ini Allah pun menegaskan bahwa syariat (agama) yang diturunkan kepada Nabi memerintahkan agar menegakkan agama dengan berjama’ah dan dilarang berfirqoh-firqoh di dalamnya.
    – QS. Ar Rum: 31-32. Dalam surat ini Allah menegaskan bahwa memecah-belah agama menjadi berfirqoh-firqoh dan berbangga-bangga dengan kelompoknya adalah prilaku orang-orang musyrik.
    – QS. Al Maidah: 57. Menyebutkan bahwa orang-orang beriman dilarang mengambil atau mengangkat pemimpin orang-orang yang menjadikan agama sebagai permainan dan ejekan.

    – Pada hadits yang diriwayatkan dari Hudzaifah bin Yaman, di takhrijkan oleh Bukhari dalam kitab shahihnya Kitabul Fitan: IX/65, Muslim di dalam Shahih Muslim Kitabul Imarah II/134-135. Dan Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah: II/475, lafadz Bukhari. Menyebutkan bahwa, “…akan ada kebaikan sesudah keburukan, tetapi di dalamnya ada DAKHON yaitu orang yang mengambil petunjuk tapi bukan dengan petunjuk Rasulullah dan orang-orang yang berprilaku bukan dengan sunnah Rasul, bahkan sesudah itu ada keburukan-keburukan, penyeru-penyeru yang mengajak ke pintu-pintu jahannam, barangsiapa yang memenuhi panggilan itu mereka akan bertekuk lutut di dalam jahannam. “Mereka itu (penyeru-penyeru) dari kulit-kulit kita dan berbicara dengan lidah-lidah kita.” Ketika Hudzaifah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apa yang tuan perintahkan kepadaku, jika aku menjumpai keadaan seperti itu.”
    Rasulullah SAW dengan tegas menjawab: “TAL ZAMU JAMAATAL MUSLIMIN WA IMAAMAHUM.” “Tetaplah kamu dalam Jama’ah Muslimin dan Imaam bagi mereka.”

    – Hadits lain diriwayatkan oleh Imaam Ahmad dari Nu’man bin Basyir, Musnad Ahmad: IV/273. Al Baihaqi, Misykaatul Masho Bih hal: 461. Lafadz Ahmad- menyebutkan bahwa, periodisasi kepemimpinan umat adalah: Pase Kenabian kemudian Khilafah Ala minhajin Nubuwwah, Mulkan Adhan, Mulkan Jabariyah. Kemudian muslimin akan kembali pada pase Khilafah Ala Minhajin Nubuwwah, pola kepemimpinan (Khilafah) yang mengikuti jejak kenabian.

    Dan banyak dalil-dalil yang semakna dan menguatkannya. Intinya ialah, Allah memberi jaminan kejayaan bagi umat Islam. Bila muslimin konsekwen berpegang teguh kepada ajaran agamanya yakni Al Qur’an dan As Sunnah, tidak hanya pada masalah aqidah dan ibadah tetapi juga pada system kepemimpinan dan kemasyarakatan umat. Sebagaimana yang di contohkan Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin Almahdiyin yaitu pola hidup ber-Jama’ah dan ber-Imaamah atau yang disebut oleh Rasul sebagai “Khilafah Ala Minhajin Nubuwwah.”

    Insya Allah potensi yang dimiliki muslimin dengan jumlah di atas satu milyar dengan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kemampuan cukup menandingi orang-orang kafir. Ditambah dengan kekayaann sumber daya alam, letak geografis dan potensi-potensi besar lainnya. Jika mereka hidup berjama’ah dan berimaamah, satu kesatuan umat yang dilandasi pada aqidah dan diikat oleh ikatan ukhuwah Islamiyah dalam Khilafah ala minhajin nubuwwah. Masalah Masjidil Aqsha, Palestina dan masalah-masalah lain yang menimpa muslimin dengan izin Allah akan mudah diselesaikan. Tidak usah action, diamnya umat Islam yang kompak dan bersatu itu saja akan menggentarkan orang-orang kafir, insya Allah, lahaula walaquwata illa billah.

    ولله العزة ولرسوله وللمؤمنين ولكن المنافقين لا يعلمون

    “Kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin. Tetapi orang-orang munafiq itu tidak mengetahui.” (QS. Al Munafiqun: 8)

    Dan Allah yang menjawab terhadap doa Rasulullah dan memberikan jaminan. “Ya Muhammad apabila Aku telah memutuskan suatu putusan, maka putusan-Ku tidak dapat dirubah lagi. Aku memperkenankan doamu untuk umatmu, bahkan mereka tidak akan binasa dengan musim susah (paceklik) yang panjang (azab secara massal). Dan Aku tidak akan menguasakan (menjajahkan) terhadap mereka (orang-orang kafir) selain diri mereka (muslimin yang saling bertikai dan berpecah-belah) sehingga kekuatan mereka hancur luluh. Sekalipun masing-masing mereka (orang kafir) semua bersatu…”(HR. Muslim).

    Dari ayat dan hadits di atas berkesimpulan:
    Kejayaan itu ada bagi Allah, Rasul dan orang-orang beriman.
    Allah memberi jaminan kepada kaum muslimin tetapi bersyarat. Jaminan itu ialah:
    Umat Islam tidak akan di adzab secara massal seperti umat-umat terdahulu.
    Jaminan kedua bahwa; umat Islam tidak akan dapat dikuasai oleh orang-orang kafir, sekalipun orang-orang kafir berkomplot dengan segala daya dan dana.
    Kehancuran muslimin terjadi oleh ulah muslimin sendiri jika mereka tidak bersatu dan saling menindas sebagian terhadap sebagian yang lain.

    (abudzakira: “nasehati aku”)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: