SAATNYA MUSLIMIN BERSATU

Oleh: KH. Abul Hidayat Saerodjie

ALLAH Subhana Wa Ta’ala berfirman:
“Adapun orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai kaum Muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu (kompak dan bersatu dalam melaksanakan perintah-Nya), niscaya akan terjadi fitnah (kekacauan) di muka bumi dan kerusakan yang besar”. (QS. Al Anfal: 73).

“Kebenaran tanpa terorganisir akan dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir”. (Atsar Ali bin Abi Thalib).

Semakin jelas dan nyata apa yang menimpa ummat Islam belakangan ini, membuktikan kebenaran firman Allah Subhana Wa Ta’ala surat Al Anfal: 73 dan atsar Khalifah Ali radhiyallahu ‘anhu.

Orang-orang kafir kompak dengan konspirasi global (persekongkolan internasional) untuk menentang dan menindas kaum Muslimin. Berbagai cara mereka lakukan, dari yang terbuka berupa tekanan-tekanan hegemoni politik dan ekonomi sampai yang tersembunyi melewati strategi operasi intelijen dengan apa yang disebut “False Flag” yaitu suatu kegiatan atau operasi yang dilakukan dengan rekayasa sedemikian rupa sehingga dampak dari kejadian itu akan menimpa kaum Muslimin atau pihak lain yang dikehendaki (objek yang dijadikan sasaran).

Israel dan Amerika Serikat dikenal sangat sering melancarkan “False Flag” dalam rangka menyudutkan lawan-lawannya (ZA. Maulani Syndicated Features 8/03). Secara simultan mereka juga melancarkan strategi lama tapi sangat efektif dan jitu, yaitu “Teori Labelling”. Mereka memberi label atau stempel kepada sasaran yang dikehendaki dengan maksud mendapatkan keuntungan ganda dan memojokkan lawan. Afghanistan dihantam bom karpet dan Taliban digulung habis, labelnya adalah “Afghanistan melindungi Usama bin Laden”. Lalu Iraq dihantam dengan curahan bom, labelnya adalah “Iraq mengancam keamanan dunia dengan senjata pemusnah massal”. Iran pun diberi label “mengembangkan senjata nuklir”. Dan Indonesia sendiri tidak luput dengan label “sarang teroris”.

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaithan-syaithan manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu. Jikalau Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan”. (QS. Al An’am: 112).

Disayangkan jumlah besar umat Islam yang menyebar ke seluruh penjuru dunia, kondisisnya bagai gundukan pasir yang menggunung tanpa perekat, jika badai menerpa mereka buyar berantakan berkeping-keping dan perserakan menjadi serpihan-serpihan individu yang lemah tak berdaya.

Dan hari ini kita menyaksikan dua pertunjukan besar yang sedang dipertontonkan manusia pada era peradaban mellenium ketiga saat ini, yaitu:

Pertama

Pertunjukan keangkuhan orang-orang kafir seperti yang dilakukan negara Adidaya yang dipamerkan melalui invasi ke negara-negara Islam di Timur Tengah dengan demo persenjataan berteknologi tinggi pembunuh  massal dan kecanggihan operasi intelijen serta rekayasa oleh Amerika dan sekutunya dengan alasan yang dibuat-buat tanpa kebenaran sedikit pun, bahkan ditentang manusia sejagad. Ribuan sipil wanita dan anak-anak tak berdosa bergelimangan yang mati dicabik-cabik oleh berbagai macam bom mutakhir super canggih yang meluluhlantakkan bangunan dan menghancurkan peradaban Islam.  Peristiwa ini pada hakekatnya menguak dan membuktikan tudingan mereka selama ini kepada Muslimin dengan sebutan teroris, ekstrim, kejam, pelanggar HAM dan sebagainya, justru mereka sendiri yang memperaktekkannya.

Pembunuhan massal yang mengancam perdamaian dan keselamatan dunia, hal ini mengingatkan kita kepada ketakkaburan Raja Namrud dan Fir’aun hingga pada puncak kesombongannya mereka mengaku “ana robbukuml a’la”, demikian juga ketakkaburan Raja Abrahah yang dengan congkak bersama dengan tentara “super power” gajahnya menginvasi Makkah untuk menghancurkan Ka’bah Baitullah, dan banyak riwayat ketakkaburan suatu bangsa yang telah melampaui batas, tetapi semuanya dihancurkan Allah dengan kekuasaan-Nya.

Kedua

Pertunjukkan ketidakberdayaan ummat Islam pada semua lini kehidupan. Di bidang ekonomi kita terpuruk, padahal Allah telah memberi berlimpah kekayaan kepada Muslimin dengan karunia negeri-negeri yang kaya sumber daya alam, tetapi mereka yang merampas dengan modus imperialisme dan kolonialisme bentuk lama maupun baru. Kita menjadi ummat jajahan yang diperebutkan bagai tumpeng yang dikepung oleh orang-orang rakus dan lapar. Demikian sinyalemen Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sehingga sahabat bertanya; “Apakah jumlah kami saat itu sedikit?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Bahkan kamu (ummat Islam) pada saat itu jumlahnya banyak, tetapi kualitasnya bagai buih air bah, hilang wibawa dan jatuh martabatnya di mata musuh, yang ada buykan iman dan semangat jihad yang menyala, tetapi “hubbudunya wakarohiyatul maut” (cinta dunia dan takut mati)”. (Hadits Nabi riwayat Abu Daud dan Bukhari).

Padahal jumlah ummat Islam lebih dari 1 milyar, sumber daya manusia yang tidak kalah dengan mereka. Kita punya ahli-ahli nuklir, pakar-pakar ekonomi, para scientist pada bidangnya masing-masing, bahkan para jenderal ahli strategi perang. Tetapi ketika orang-orang zionis, Amerika dan sekutunya dengan leluasa membunuh ummat Islam di Palestina, Afghanistan, Iraq dan berbagai negeri lainnya, bahkan dengan semena-mena menuduh dan memfitnah Islam sebagai teroris, dihina dan dilecehkan, dirampas kekayaan kita, tetapi kita hanya diam melompong, kita hanya bisa mengelus dada, sedih, pilu, dan meratapi. Mengapa hal ini terjadi? Akankah hal ini akan terus terjadi?

Mari kita sejenak tafakur dan merenung. Mungkin ada sesuatu yang tidak beres pada kita selaku ummat Islam atau ada yang salah dari langkah-langkah kita selama ini. Perhatikan baik-baik firman Allah Subhana Wa Ta’ala:

“Adapun orang-orang yang kafir, sebahagian mereka menjadi pelindung bagi sebahagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar”. (QS Al Anfal: 73).

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang teguh kepada tali Allah dan tali dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.” (QS Ali Imran: 112).

Dapat disimpulkan beberapa penyebab yang dapat menjadi lemah dan hinanya uumat, antara lain:

  1. Tidak konsekuen terhadap pegangan hidupnya, yaitu Al Qur’an dan As Sunnah.
  2. Tidak kompak dan bersatunya ummat Islam (tidak diamalkannya sistem hidup berjama’ah).
  3. Tidak terorganisir dengan baik.
  4. Mengkufuri ayat-ayat Allah dan “membunuh” (meninggalkan) sunnah dan manhaj Nabi.
  5. Bertindak dengan tindakan yang melampaui batas agama.

(abudzakira: “nasehati aku”)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: