SANGAT BERAT MUSYRIKIN BERSATU

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu; “Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS. Asy-Syuura (42): 13).

 

Islam adalah agama yang satu, sejak diamanatkan kepada manusia pertama hingga manusia yang terakhir. Allah memerintahkan dengan sangat jelas tentang “persatuan” di dalam Islam. Setiap masa, kepemimpinan umat dipegang oleh seorang Nabi. Tak terkecuali ketika satu masa diutus dua orang Nabi dan Rasul, tetap satu orang yang memimpin.. Contohnya ketika masa Nabi Musa ‘alaihissalam dan Nabi Harun ‘alaihissalam. Nabi Harun ‘alaihissalam menjadi wakil Nabi Musa ‘alaihissalam. Dari kepemimpinan Nabi Adam ‘alaihissam hingga Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kepemimpinan Muslimin selalu di bawah satu pemimpin. Berlanjut kepemimpinan Khulafa ar-Rasyidin al-Mahdiyin yang menetapi petunjuk.

 

Karena itulah, adalah satu pelanggaran besar terhadap sesuatu yang sangat mendasar terhadap dinullah, ketika Muslimin tidak mau menerima seruan “bersatu” di bawah satu kepemimpinan. Terlalu banyak alasan yang dilontarkan sebagai penolakan untuk bersatu. Di antaranya: karena mereka sudah berkelompok, karena menganggap jama’ah adalah organisasi Islam yang sama pada umumnya, karena kwalitas kelompoknya lebih baik dan lebih besar, karena menganggap belum ada figur  pemimpin yang tepat, karena pemimpinnya yang sekarang lebih baik dan terkenal dari pemimpin yang akan dibai’at, belum adanya imam mahdi atau imam dari keturunan Quraisy, karena takut tidak memiliki jabatan, dan banyak lagi alasan lainnya.

 

Tidak perlu kecewa bagi para penyeru “persatuan” di dalam satu imam, karena Allah telah menjelaskan bahwa: “Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” Tugas kita hanya sebagai “penyampai”.

 

Tengoklah sekilas ke belakang, bagaimana sahabat Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu (da’i  pertama yang diutus Rasulullah) menyampaikan Islam kepada seorang kepala suku bernama Usaid bin Hudhair. Beliau mengatakan: “Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya anda menyukainya nanti, anda dapat menerimanya. Sebailknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu!”

 

Menyeru sesama Muslim untuk “bersatu” sama beratnya seperti menyeru musyrikin kepada tauhid. Dan menyeru kepada “persatuan” sama dengan menyeru kepada “tauhid”.  Perhatikan wahyu Allah ini:

 

 

“Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertaqwalah kepada-Nya dan dirikanlah sholat, dan janganlah kamu termasuk  orang-orang yang musyrik (mempersekutukan Allah). Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar Rum (30): 31-32).

 

Orang-orang musyrik bukan hanya seperti musyrikin Quraisy yang nyata-nyata menyembah patung-patung berhala meski meyakini tauhid rububiyah (mengesakan Allah dalam hal penciptaan, penguasaan dan pemeliharaan alam semesta), atau seperti para ahli bid’ah, atau seperti orang-orang yang berjimat dan berdukun. Orang-orang yang berpecah belah dan mengelompokkan jama’ahnya dengan faham ilmu tertentu tanpa mau bersatu dalam satu pimpinan adalah termasuk golongan musyrikin. Secara logika, riya’ saja termasuk dosa syirik, apalagi berpecah belah dalam agama yang sangat memperlemah kekuatan Muslimin dan menjatuhkan kehormatan Islam.

 

Hanya karena berselisih dua tiga hal saja, persatuan dikorbankan. Padahal, dengan bersatu dalam satu pengembala, perselisihan dapat disepahamkan. Rasa ke”aku”an lebih dikedepankan dari pada tawadhu’ untuk mau dipimpin meskipun oleh seorang bekas budak Habsyi.

 

Telah kita ketahui bersama dan lihat bersama, betapa lemahnya Muslimin ketika saudaranya di negeri lain dizhalimi oleh orang-orang kafir. Kecaman-kecaman yang terlontar dari mulut-mulut Muslimin hanya dijadikan bahan ejekan saja. Karena lemahnya, Muslimin hanya bisa berteriak mengutuk tanpa bisa berbuat apa-apa. Jika pun bisa, tidak banyak membantu. Sehingga hanya berharap pertolongan Allah langsung. Kondisi seperti ini yang membuat para kartunis jahil berani melecehkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berulang-ulang, dan orang-orang kafir awam berani membakar Al Qur’an, dan banyak bentuk pelecehan yang lain terhadap Islam dan Muslimin.

 

Namun, tetaplah sangat berat bagi orang-orang musyrikin mengikuti seruan agar bersatu di dalam satu jama’ah imamah, satu imam (pemimpin) di setiap masa. Dan ini pun menjadi tantangan tersendiri bagi para da’i penyeru tauhid. Padahal, “bersatu” atau “berjama’ah” adalah satu bentuk dari ketauhidan. “Bersatu” atau “berjama’ah” adalah sesuatu yang ringan untuk dilakukan. Karena sesal orang-orang yang tidak mau bersatu telah terkhabarkan melalui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

 

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menuturkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Allah berkata kepada ahli neraka yang paling ringan siksaannya: “Seandainya dunia dan isinya menjadi milikmu ditambah dengan dunia dan isinya lagi, apakah engkau akan menebus siksaan ini dengan milikmu itu?” Ahli neraka itu menjawab: “Betul.” Allah berfirman: “Kami telah menghendaki yang lebih ringan dari itu, yaitu ketika Aku meminta supaya kamu jangan melakukan syirik. Maka kamu sekalian tidak mau, kecuali malah melakukannya.” (HR. Muslim).

Maka, bagaimanakah sikap kita bila mereka yang berpecah belah itu, yang bergolong-golongan itu tidak mau taslim dalam Islam di bawah satu perintah seorang imam (pemimpin)? Allah telah menjawab pertanyaan ini:

“Dan sesungguhnya (agama) tauhid ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Rabb-mu, maka bertaqwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka menjadi terpecah belaj menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu.” (QS. Al Mu’minun (23): 52-54).

 

Dan ancaman keras Allah bagi Muslimin yang berpecah belah:

 

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksaan yang berat.” (QS. Ali Imran (3):105).

(abudzakira: “nasehati aku”)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: