SHODAQOH SOLUSI HIDUP BAROKAH

Oleh : Ali Farkhan Tsani (Afta)

Makna Shodaqoh

Kata shadaqah makna asalnya adalah
تَحْقِيْقُ شَيْئٍ بِشَيْئٍ
Artinya : “Menetapkan atau menerapkan sesuatu pada sesuatu”. 

Secara bahasa, kata shadaqah berasal dari akar kata shidq yang berarti benar atau membenarkan sesuatu. Benar dalam arti sejalannya antara ucapan, keyakinan dan perbuatan. Karena itu, dapat dikatakan bahwa orang yang gemar bershadaqah menunjukkan kebenaran imannya. Iman kepada Allah yang telah menitipkan harta kepadanya serta iman kepada adanya hari akhir tempat pembalasan bagi setiap bagi hamba-hamba-Nya.

Adapun secara istilah, secara umum shadaqah bermakna pemberian, mengeluarkan sesuatu, atau derma di jalan Allah. Pemberian tersebut bersifat sukarela (ikhlas), tanpa disertai imbalan , tanpa paksaan, kapan saja dan berapapun jumlahnya.

Secara umum, shadaqah bukan hanya bermakna mengeluarkan atau mendermakan harta. Namun shadaqah mencakup segala amal shalih atau perbuatan baik. Hingga dalam sebuah hadits pun disebutkan, bertemu dengan sesama saudara kita dengan wajah cerah, seraya tersenyum ceria pun, dapat juga dikatakan shadaqah. Sebagaimana sabda beliau :

تَبَسُّمُكَ فِيْ وَجْهِ أَخِيْكَ لَكَ صَدَقَةٌ
Artinya : “Senyummu untuk saudaramu adalah shadaqah bagimu.” (HR At-Tirmidzi).

Maka dengan demikian dapat dikatakan bahwa shadaqah adalah segala macam bentuk kebaikan yang dilakukan oleh setiap muslim dalam rangka mencari keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bentuk kegiatan tersebut dapat berupa perbuatan yang secara lahiriyah terlihat bukan ibadah seperti bekerja mencari nafkah, menyuapi anak, sampai hubungan intim suami isteri. Itu pun dapat disebutkan dengan aktivitas shadaqah. Wah, bagi suami isteri, makin mesra aja dong, karena saling gemar bershadaqah.

Shadaqah merupakan bukti keimanan seseorang

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ( ) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ( )
Artinya : “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang
bertaqwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu
lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan
memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat
ihsan (muhsin).” (QS. Ali Imran / 3 : 133-134).

Itulah bukti keimanan kita, seperti juga Allah ungkapkan ciri-ciri orang yang beriman dengan sebenarnya, salah satu indikasinya adalah mereka yang mampu menafkahkan sebagian dari rezeki yang Allah berikan kepadanya di jalan yang Allah ridhai.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ( ) الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ ( ) أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ ( )

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila
disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada
mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada
Rabblah mereka bertawakkal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat
dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada
mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan
memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan
serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS Al-Anfal / 8 : 2-4).

Dalam hal inilah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutnya :

وَ الصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ
Artinya : “Dan shadaqah itu merupakan bukti.” (HR Muslim).

Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Shadaqah adalah Bukti”, artinya adalah bukti dari kejujuran iman dan keikhlasan seseorang yang terlihat dari bagaimana ia gemar bershadaqah.

1. Semakin Gemar Bershadaqah Semakin Barokah

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ ( ) فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ( )

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum`at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS Al-Jumu’ah / 62 : 9-10).

Turunnya ayat ini berkaitan dengan peristiwa pada saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkhutbah pada hariu Jum’at, kemudian datanglah kafilah dagang yang membawa barang-barang dagangan dari negeri Syam (kawasan Palestina sekarang). Memang tidak setiap hari atau pekan para kafilah dagang tersebut menyambangi negeri Madinah. Hanya sesekali saja dalam semusim, untuk singgah sebentar, lalu melanjutkan perjalanan ke daerah lainnya.

Memang sudah menjadi kebiasaan para pedagang jazirah Arab mengadakan perjalanan dagang musim panas ke negeri Yaman dan waktu musim dingin ke negeri Syam (kawasan yang meliputi Palestina, Libanon, Syria dan Jordania). Allah pun mengabadikannya:

لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ ( ) إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ ( ) فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ ( ) الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَءَامَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ ( )

Artinya : “Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka`bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (QS Al-Quraisy / 106 : 1-4).

Demi mendengar ramai gelaran pameran atau ekspo perdagangan dimulai, maka jama’ah Jum’ah yang sedang mendegarkan khutbah dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mulai terusik hatinya, antara terus mendengarkan khutbah sampai selesai, atau keluar awalau sejenak untuk memesan barang-barang dagangan yang memang sangat diperlukan. Apa yang terjadi? Ternyata tidak sedikit jama’ah Jum’ah pada waktu itu yang terpaksa keluar untuk menjemput rombongan kafilah dagang dengan meninggalkan mendengar khutbah Jum’ah.

Memang Allah Ta’ala, dengan Ke-Mahaadilan-Nya telah menyiapkan ayat-ayat tausiyah-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang suatu saat bisa lalai dan lupa, serta bisa berbuat maksiat dan khianat. Maka, Allah pun menurunkan ayat tersebut sebagai teguran keras sekaligus penegasan dari Yang Maha Pemberi rezki, bahwa apa yang di sisi Allah adalah jauh lebih baik daripada apa yang ada pada dunia perdagangan atau bisnis yang menjanjikan sekalipun. Hal ini sekaligus juga mengingatkan kita pengikut beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, agar tidak dilalaikan dengan urusan bisnis dan keduniaan pada umumnya. Bahkan harus selalu terikat dengan ingat kepada Allah, dzikrullah.

Perniagaan berbasis dzikrullah, itulah yang selalu menjadi motor penggerak kita dalam berniaga. Sehingga sedikit keuntungan yang sifatnya duniawi akan berbalas keuntungan ukhrawi berlipat ganda. Maka, bagi mereka yang berkecimpung di dalam dunia perusahaan, perkantoran, kontraktor, pegawai, dokter, karyawan, buruh, dan rakyat jelata pada umumnya akan menjadi pilar utama pembangunan seutuhnya manakala menjadikan dzikrullah sebagai sandaran tiap langkah-langkahnya. Sehingga Allah pun berkenan memberikan pertolongan, karunia, dan limpahan barokah rezki sekehendak-Nya.

Janganlah kita merasa takut kehilangan rezki, ditinggal pergi pelanggan, atau kaburnya calon pembeli, hanya karena ingat kepada Allah. Justru di situlah letak keberkahan rezki kita, yang insya Allah dengan izin Allah justru akan terus bertambah, melimpah dalam ridha-Nya. Amin. Sebaliknya, marilah kita tumbuhkan rasa takut manakala ditinggalkan oleh Allah disebabkan kita lebih mengutamakan perniagaan dan urusan duniawi daripada mendengar dan melaksanakan titah perintah-Nya, serta lebih mengutamakan keuntungan materi dibandingkan keberkahan-Nya.

Janganlah kita pura-pura lupa kepada Allah, pura-pura tidak mendengar panggilan adzan, pura-pura tidak tersedia uang recehan untuk sedikit shadaqah di kotak masjid, dan kepura-puraan lainnya. Maka sungguh Allah akan melupakan kita. Kalau Allah Sang Pemilik langit dan bumi sudah melupakan kita, lalau kita akan menetap di bumi mana lagi? Kita akan memperoleh rezki dari mana lagi?

Allah memperingatkan kita akibat kefasikan kita itu :

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ( ) لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ ( )
Artinya : “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Al-Hasyr / 59 : 19-20).

Padahal iman dan taqwa itulah, keyakinan dan konsekwensi menjalankan perintah Allah itulah, penyebab utama limpahan karunia dan keberkahan-Nya. Sebagaimana Allah sendiri yang menjanjikan di dalam kirab suci-Nya :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Artinya : “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barokah dari langit dan bumi, tapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Q.S. Al-A’raaf / 7 : 96).

Apakah setelah gemar bershadaqah dan berinfaq di jalan Allah, lalu serta merta menjadi miskin atau bangkrut? Tidak juga! Sekali lagi tidak juga! Karena memang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri yang menjaminkan hal itu dalam sabdanya :

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Artinya : “Tidaklah berkurang karena shadaqah, dari harta.” (HR Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

Terhadap sahabat bernama Bilal bin Robbah Radhiyallahu ‘Anhu pun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berpesan :

أَنْفِقْ بِلاَل ! وَ لاَ تَخْشَ مِنْ ذِيْ العَرْشِ إِقْلاَلاً
Artinya “Berinfaklah wahai Bilal! Janganlah takut hartamu itu berkurang, karena ada Allah yang memiliki ‘Arsy (Yang Maha Mencukupi).” (HR Al-Bazzar dan Ath-Thabrani).

Belum sempurna kebajikan sebelum menshadaqahkan sesuatu yang dicintainya

Di dalam Surat Ali Imran ayat 92 Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Artinya : “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan (mempersembahkan) sesuatu yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”

Sebagian warga pada zaman Nabi yang gemar bershadaqah, namun bershadaqahnya dengan buah kurma yang jelek-jelek yang diri dan keluarganya sendiri kurang suka memakannya. Sementara yang bagus lagi enak disimpannya untuk dirinya. Mungkin, tapi mudah-mudahan tidak, kalau kita juga pernah memberikan pakaian bekas, sarung bekas, perkakasan dapur bekas, sepeda bekas, dan serba bekas lainnya yang sudah tidak kita pakai lagi sudah tidak kita minati lagi, barulah kitra shadaqahkan kepada orang lain. “Alhamdulillaah….”. Masih tergugah untuk bershadaqah walau hanya dengan barang ‘bekas’ itu yang diberi lebel ‘barang pantas pakai’ untuk orang lain, yang sudah tidak pantas kita pakai lagi untuk sendiri.

Maka turunlah ayat ini untuk penduduk pada waktu itu, dan memberikan pelajaran juga untuk kita sebagai umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Walaupun memang untuk bershadaqah tentu tidak boleh dipaksa untuk menshadaqahkan yang paling baik, yang paling dicintai, atau hanya yang baik-baik saja. Dalam hal ini Allah dengan Maha Bijakasana hanya mengingatkan : “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan (mempersembahkan) sesuatu yang kamu cintai”.

Maka, betul saja, bagaimana tingkat tinggi kesadaran para sahabat Nabi begitu diingatkan dengan turunnya ayat tersebut. Apa yang kemudian mereka lakukan? Serta merta mereka mulai memilah dan memilih yang baik-baik untuk dishadaqahkan kepada orang lain, demi meraih kebajikan yang sempurna, demi meraih ridha Allah Sang Pemberi rezki. Di antaranya dipelopori oleh sahabat Nabi yang bernama Abu Thalhah. Beliau segera menghadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, seraya berkata, “Sesungguhnya Allah telah berfiman di dalam kitabnya (yang artinya), “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.”

Adapun sesungguhnya harta yang paling aku sukai adalah kebunku. Untuk itu, aku menshadaqahkan kebunku tersebut untuk jalan Allah, dengan harapan mendapatkan kebaikan dan simpanan di sisi Allah, maka pergunakanlah meurut kehendakmu, Wahai Rasulullah.” Rasulullahpun berkomentar, “Bagus… bagus…, Itulah harta yang menguntungkan… itulah harta yang mnguntungkan…. Aku telah mendengar apa yang engkau katakana, dan aku memutuskan agar engkau shadaqahkan kepada kerabat-kerabatmu.” Maka, Abu Thalhah pun membagi-bagikannya kepada anak kerabatnya dan keturunan dari pamanya.” Subhanallaah.

Oleh karena itu, adanya ayat-ayat suci yang diturunkan oleh Dzat Yang Maha Suci, dengan maksud mensucikan niat ikhlas kita semuanya. Ya, maka marilah kita sesekali, atau boleh beberapa kali, atau seringkali untuk dapat bershadaqah dari barang yang kita cintai demi meraih kebajikan yang sempurna. Seperti telah dipelopori oleh Abu Thalhah. Insya Allah.

Shadaqah Separuh Biji Kurma

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
تَصَدَّقُوْا وَلَوْ بِتَمْرَةٍ, فَإِنَّهَا تَسُدُّ مِنَ الْجَائِعِ وَ تُطْفِئُ الْخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ
Artinya : “Bershadaqahlah kalian, meskipun hanya dengan sebiji kurma. Sebab, shadaqah dapat memenuhi kebutuhan orang yang kelaparan, dan memadamkan kesalahan, sebagaimana air mampu memadamkan api.”(HR Ahmad).

Betapapun kelihatannya kurma barang kecil dan umum terdapat di segala tempat waktu itu di jazirah Arab. Ia akan bernilai besar manakala tersedia bagian untuk dishadaqahkan bagi yang memerlukan. Mungkin kalau di daerah tropis seperti di Indonesia, barangkali sama dengan makan harian tempe atau kerupuk. Tapi marilah kita bayangkan, ada tetangga kita, ada peminta-minta, atau ada saudara kita yang jarang ditengok, mereka belum makan. Sementara yang ada hanya nasi, itupun sisa tadi malam. Kehadiran sepotong tempe atau secuil kerupuk jelas akan sangat berarti untuk menemani nasi tadi. Jadi, persoalannya bukan semata bershadaqahlahw alaupun dengan sebiji kurma. Tetapi di mana letak kepedulian kita tehadap mereka yang lapar, yang berada di dekitar kita, di tengah kekenyangan kita.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan peringatan terhadap kita :
لاَ يُؤْمِنُ بِي مَنْ باَتَ شَبْعَانًا وَ جَارُهُ جَا ئِعٌ وَهُوَ يَعْرِفُهُ
Artinya : “Tidak beriman kepadaku barangsiapa yang kenyang pada suatu malam, sedangkan tetangganya kelaparan, padahal ia mengetahuinya.”(HR. Ath-Thabrani).

Maka, shadaqah walaupun hanya dengan sebiji kurma atau sepotong roti atau sebungkus nasi uduk yang bagi kita mungkin tidak begitu berarti dan berharga. Namun manakala diberikan kepada tetangga kita yang dari tadi malam belum makan, pagi ini pun belum tentu sarapan. Insya Allah shadaqah yang dianggap remeh temeh itu akan menjadi sebebar gunung. Dan rasanya, sudah tidak ada alasan lagi untuk kita tidak cinta dan gemar bershadaqah. Bagaimana tidak? Sepotong kurma saja berbalas segunung Uhud. Allahu Akbar!

Sebagaimana janji beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :
إِنَّ اللهَ لَيُرَبِّي لأَحَدِكُمُ التَّمْرَةَ وَ اللُّقْمَةَ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فُلُوَّهُ أَوْ فَصِيْلَهُ حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ أُحُدٍ
Artinya : “Sesungguhnya Allah akan mengembangkan shadaqah kurma atau sepotong makanan dari seorang di antara kalian, sebagaimana seorang di antara kalian memelihara anak kuda atau anak untanya, sehingga sedekah tersebut menjadi besar seperti bukit Uhud”. (HR Ahmad).

Begitu tidak ada alasan belum begitu kaya, belum kaya, belum sangat kaya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sampai-sampai meminta umatnya supaya terhindar dari siksa jilatan api neraka kelak, untuk bershadaqah walau dengan separuh kurma!
اِتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ
Artinya : “Berlindunglah kalian dari neraka, walaupun dengan menyedekahkan separuh kurma. Barangsiapa yang tidak mendapatkannya, maka dengan kata-kata yang baik.” (HR Muttafaqun ‘Alaih).

Shadaqah pangkal keberkahan

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
Artinya : “Katakanlah, ‘Sesungguhnya Rabbku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya). Dan apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya’.” (Saba’ / 34 : 39).

Ibnu Katsir menjelaskan kandungan ayat di atas bahwa betapapun sedikit apa yang seseorang infakkan dari apa yang diperintahkan Allah dan apa yang diperbolehkan-Nya. Niscaya Allah akan menggantinya di dunia, dan di akhirat akan diberi pahala

Ganti dari Allah tentu bukan sembarang ganti., tetapi ganti yang lebih baik lagi dan ganti yang lebih banyak pula. Sudah diganti di dunia, ditambahkan pula di akhirat yang lebih abadi. Masya Allah. Maka, manusia mana yang bodoh dengan janji ganti dari Allah itu? Sehingga ia enggan bershadaqah kepada yang memerlukan?

Secara bahasa, zakat juga beberapa kali disebutkan di dalam Al-Quran dengan istilah shadaqah. Dalam hal ini, zakat itu bermakna : suci, bertambah, tumbuh, barokah. Karena itu, orang yang menunaikan zakat / shadaqah dari hartanya, maka hartanya akan menjadi suci, tumbuh dan tambah berkembang, serta penuh barokah.

Begitulah, ternyata dengan gemar bershadaqah justru merupakan pangkal keberkahan dan kekayaan. Dengan gemar bershadaqah walau tampaknya sedikit, akan menjadi banyak di sisi Allah. Harta yang fana ketika dishadaqahkan akan menjadi kawan abadi.

Menurut Ali bin Abi Thalib, shadaqah itu sebelum sampai kepada tangan orang yang menerimanya, terlebih dahulu akan sampai kepada Allah, dan Allah sendiri yang menerimanya. Kemudian shadaqah itu berkata lima hal, (1) Dulu aku sedikit, tapi ketika kamu berikan kepada yang membutuhkan akan jadi banyak, (2) Dulu aku kecil, lalu kamu besarkan aku, (3) Dulu aku musuh, namun sekarang engkau jadikan aku yang menyenangkan, (4) Dulu aku fana namun sekarang engkau jadikan aku kekal, (5) Dulu aku yang dijaga, namun sekarang aku yang akan menjagamu.

Wallahu A’lam

Ali Farkhan Tsani (Afta)
Staf Da’i Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor
Pengelola Group FB Manajemen Spirit Al-Quran
HP : 082 110 110 597 Email : farkhants@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: