DENGAN HARTA MENCAPAI TAQWA SEMPURNA

Oleh: Abu Dzakira

“Inilah kitab yang tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. (yaitu) orang-orang yang beriman kepada yang ghaib, dan menegakkan sholat, dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al Baqarah (2): 2-3).


“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Rabb-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang bertaqwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran (3): 133-134).

Siapakah orang yang paling mulia di sisi Allah? Allah menjawab: “Orang yang paling taqwa” (QS. Al Hujurat (49): 13).

Siapakah yang akan menolak predikat “taqwa” dan menjadi orang mulia di sisi Allah? Selain beriman kepada yang ghaib dan menegakkan sholat, salah satu karakter syarat “taqwa” adalah menafkahkan sebagian rizki yang diperolehnya dari Allah kepada jalan Allah baik di waktu lapang maupun di waktu sempit. Dan seseorang tidak akan mencapai suatu kebajikan yang sempurna sebelum ia menafkahkan sebagian harta yang ia cintai (QS. Ali Imran (3): 92).

Ketika seseorang dianjurkan bershodaqoh, maka secara zhahir yang tergambar adalah seseorang memberikan harta miliknya begitu saja tanpa ia memperoleh apa-apa sebagai penukarnya. Maka terciptalah shodaqoh-shodaqoh yang begitu berat dan terpaksa. Kondisi semacam ini umumnya terjadi lantaran keimanan kepada yang ghaib masih separuh-separuh. Maka jika bershodaqoh banyak, ada kekhawatiran ada kebutuhan yang tidak tercukupi, khawatir hartanya akan berkurang, khawatir mendapat kesulitan financial beberapa hari ke depan.

Mereka mengimani Allah, tetapi mereka masih meragukan janji-janji Allah. Ada keraguan terhadap kebenaran janji-janji Allah. Diperparah karena shodaqoh berhubungan dengan pengeluaran harta benda yang tidak mendapatkan ganti langsung dengan benda atau rizki apa pun.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada  apa-apa yang diingini, yaitu; wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran (3): 14).

Bagaimana tidak berat untuk bershodaqoh dan berinfak? Apa lagi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya setiap umat itu akan dihadapkan dengan ujian (yang terbesar). Dan termasuk ujian yang terbesar yang menimpa umatku adalah harta.” (HR. At-Tirmidzi dari ‘Iyadh bin Himar radiyallahu ‘anhu).

Agama Allah selalu membutuhkan biaya yang tinggi dalam bentuk do’a, keringat, waktu, harta dan nyawa. Nafkah-nafkah sebagian rizki dari Muslimin adalah bahan bakar dan sumber kalori bagi agama itu sendiri. Dengan nafkah-nafkah itulah jihad fii sabilillah dapat bertakbir lantang, para alim dapat khusyu’ mengaji, para fakir dapat tersenyum damai, dan kaum kuffar dapat berpikir 1000 kali.

Islam dan umat membutuhkan jiwa-jiwa dan watak-watak penderma seperti Rasulullah, Ummul Mu’minin Siti Khadijah, Abu Bakar, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin ‘Auf, Ummul Mu’minin Zainab, dan para sahabat yang berlomba-lomba kepada ampunan Allah dan berlomba-lomba kepada surga dengan cara menafkahkan sebagian rizkinya di jalan Allah.

Coba tafakkuri satu dari sekian banyak sample jiwa-jiwa yang ikhlas  berikut ini:

Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Ketika turun ayat 245 dari surah Al Baqarah, Abu Dahdaah al-Anshari berkata: “Ya Rasulullah, Allah akan meminjam dari kita?” Jawab Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Benar, hai Abu Dahdaah.” Abu Dahdaah berkata: “Ya Rasulullah, ulurkan tanganmu.” Maka ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengulurkan tangannya, dijabat oleh Abu Dahdaah dan berkata: “Aku telah meminjamkan kebunku kepada Rabb-ku Azza wa Jalla kebun yang berisi enam ratus pohon kurma.” Sedang Ummu Dahdaah dan anak-anaknya di dalam kebun itu, lalu Abu Dahdaah memanggil Ummu Dahdaah dari luar pagar: “Hai Ummu Dahdaah keluarlah dari kebun, karena kebun telah aku pinjmkan kepada Rabb-ku Azza wa Jalla.” (Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih dari Umar radhiyallahu ‘anhu).

Sungguh hanya orang-orang yang sempurna taqwanya yang mampu berbuat seperti Abu Dahdaah. Atau seperti Abu Bakar yang menginfakkan seluruh hartanya, atau seperti Khalid bin Walid yang menginfakkan sepertiga uang yang selalu diperolehnya.

Ini semua bisa terjadi lantaran menafkahkan sebagian rizki atau milik pribadi di jalan Allah merupakan salah satu syarat wajib untuk mencapai derajat taqwa dan untuk mencapai kebajikan yang sempurna.

Namun Allah Subhana wa Ta’ala Maha Pemurah dan Maha Kaya. Menginfakkan sebagian rizki di jalan Allah bukan hanya sekedar syarat taqwa, tapi akan digantikan oleh Allah dengan yang lebih banyak dan lebih baik.

“Katakanlah: “Sesungguhnya Rabb-ku melapangkan rizki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya). Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi Rizki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’(34): 39).

Allah mengatakan “apa saja”, maka Allah akan menggantinya dan Allah adalah Pemberi yang paling baik. Dan Allah akan melipatgandakan apa-apa yang dipinjamkan (dinafkahkan) kepada-Nya.

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik ( menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan memperlipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki) dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” (QS. Al Baqarah (2): 245).

Dan puncaknya, Allah akan membalas dengan balasan yang terbaik, yaitu jannah (surga) (QS. Ali Imran (3); 133). Lalu siapa yang akan menolak?

Wahai Muslimin! Bersegeralah dan berlomba-lombalah menafkahkan, menshodaqohkan harta yang kalian cintai! Jika terlintas kekhawatiran harta kalian akan berkurang dan kalian akan jatuh miskin, maka sadarlah, sesungguhnya itu adalah kedustaan syaithan!

“Syaithan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir). Sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan dari pada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baarah (2): 268).

Dan adalah janji-janji syaithan tak lebih hanya dusta besar belaka.

Wallahu ‘alam bish shawab.

(Abudzakira: “nasehati aku”)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: