DENGAN HARTA MENUJU “KEBINASAAN”

“Dan jadikanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah (2): 195).

Zaid bin Aslam radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wa anfiqu fii sabilillaahi walaa tulqu bi aidikum ilat tahlukah (dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan), mengenai pasukan yang dikirim oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tanpa perbekalan yang cukup, sehingga dikhawatirkan akan kelaparan, maka Allah menyuruh supaya orang-orang membelanjai perjuangan fii sabilillah, dan jangan menjerumuskan diri dalam jurang binasa karena bakhil (kikir).”

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa ayat 195 ini ancaman bagi orang-orang yang bakhil, tidak suka membantu perjuangan menegakkan agama Allah.”

Dari ayat ini saja, dapat disimpulkan bahwa mendanai dan membantu perjuangan menegakkan dinullah (aturan Allah) adalah wajib hukumnya. Jika tidak mau membantu dana jihad fii sabilillah alias kikir/bakhil, maka itulah “KEBINASAAN”.

Kikir/bakhil adalah satu karakter ahli neraka.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang bakhil, penipu, pengkhianat dan yang berwatak jahat.” (HR. Ahmad, Tirmidzi dari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu).

Sifat bakhil dan kikir bukanlah karakter orang yang beriman. Orang-orang seperti ini adalah orang egois yang tidak bersyukur kepada Allah atas rizki harta yang telah Allah berikan lebih kepadanya. Syaithan telah membutakan pikiran mereka sehingga memandang baik terhadap kekikiran mereka.

Dan Allah Subhana Wa Ta’ala sangat keras memperingatkan orang-orang kikir, juga orang-orang yang menyimpan emas dan perak tanpa mau berinfaq shodaqah di jalan Allah.

“Bagi setiap pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam huthamah (neraka).” (QS. Al-Humazah (104): 1-4).

“….Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah. Maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (QS. At-Taubah (9): 34).

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari Qiyamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali Imaran (3): 180).

Secara aqli (logika), apakah kita patut kikir kepada Allah yang telah memberikan kita harta dan ni’mat utama lainnya? Tidak cukupkah ancaman-ancaman Allah melalui ayat-ayat-Nya? Ataukah tetap tidak mau menafkahkan sebagian hartanya di jalanAllah? Dan ini jelas berarti menuju “KEBINASAAN”.

Atau memilih loyal menafkahkan sebagian hartanya di jalan Allah? Itu berarti menuju “TAQWA” (QS. Al-Baqarah (2): 2-3), (QS. Ali Imran (3): 133-134), dan untuk meraih “kebajikan yang sempurna” (QS. Ali Imran (3): 92).

Mari mengambil ibroh (pelajaran) dari umat terdahulu:

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Takutlah kamu akan sifat kikir, karena sifat kikir itu telah membinasakan orang-orang yang sebelum kamu, disuruhnya mereka menumpahkan darah dan menghalalkan yang haram.” (HR. Muslim).

Untuk itu, bersegeralah kepada ampunan Allah dan surga-Nya dengan cara menshadaqahkan harta yang dimiliki (QS. Ali Imran (3): 133-134). Jangan menunggu harta terkumpul banyak, baru mau bershadaqah. Atau jangan sampai masa “tak ada jual-beli” itu tiba. Atau kematian lebih cepat datangnya dari pada niat kita untuk berinfaq.

“Hai orang-orang yang beriman! Belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rizki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah yang zhalim.” (QS. Al-Baqarah (2): 154).

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu lalu ia berkata: “YaRabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bershadaqah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh.” (QS. Al-Munafiquun (63): 10).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: Seseorang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Wahai Rasulullah! Shadaqah apakah yang paling afdhal?” Beliau menjawab, “Kau bershadaqah ketika kau masih dalam keadaan sehat lagi loba, kau sangat ingin menjadi kaya, dan khawatir miskin. Jangan kau tunda hingga ruh sudah sampai di kerongkongan, kau baru berpesan: “Untuk si fulan sekian dan untuk si fulan sekian”. Padahal harta itu sudah menjadi hak si fulan (ahli waris).” (HR. Bukhari).

Sehubungan dengan hal ini, coba simak dan renungi jawaban shahabat Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu atas pertanyaan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu tentang “taqwa”, “Apakah anda tidak pernah berjalan di tempat yang penuh duri?” Jawab Umar, “Ya.” Ubay bin Ka’ab bertanya, “Lalu anda berbuat apa?” Jawab Umar, “Saya sangat waspada dan bersungguh-sungguh menyelamatkan diri dari duri itu.” Ubay bin Ka’ab berkata, “Itulah contoh taqwa (kewaspadaan dan kecermatan).”

Jadi, di dalam hidup, kita harus sungguh-sungguh waspada di setiap waktu. Sebisa mungkin harus menempatkan diri kita selalu di jalan Allah, karena tak ada manusia yang mengerti, kapan dan dengan cara apa mautnya datang. Termasuk harta yang kita miliki. Harta yang banyak yang kita kumpulkan tidak akan berguna apa-apa bagi kita, jika maut datang lebih cepat dari perkiraan kita. Untuk itu kita harus selalu standby di jalan Allah sebagai bentuk kewaspadaan kita jika ajal itu datang tiba-tiba. Mungkin tak banyak amaliah yang kita lakukan, tapi kita bisa mengirim lebih dahulu perisai kita ke akherat nanti dengan berupa nafkah harta di jalan Allah.

Berinfaqlah di jalan Allah (untuk agama Allah) sebelum kesempatan bagi kita Allah tutup dengan cara mencabut ruh kita atau dengan datangnya hari Qiyamat. Jika sampai maut mendahului harta kita ke jalan Allah, maka jelaslah “kebinasaan”.

Hidup adalah perjuangan menuju taqwa dan peperangan melawan syaithan. Jangan biarkan sifat kikir membuat kita gagal bertaqwa, tapi justeru binasa ke neraka. Dan jangan biarkan sifat kikir membuat kita kalah.

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekali pun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang menang (beruntung).” (QS. Ql-Hasyr (59): 9).

Menafkahkan sebagian rizki kita pada jalan Allah adalah salah satu pos yang harus kita singgahi untuk meperoleh “kemenangan”. (QS. Al-Baqarah (2): 2-5). Hindari “KEBINASAAN”!!!

Wallahu ‘alam bish shawwab.

(Abu Dzakira: “nasehati aku”)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: