ISTRI RASULULLAH YANG PALING PANJANG TANGANNYA

Ummul Mu’minin Saudah binti Zam’ah

Dia adalah wanita pertama yang dinikahi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sesudah Khadijah radhiyallahu ‘anha dan dia sendiri yang bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam selama kurang lebih 3 tahun sehingga beliau berumah tangga dengan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.  Adalah para sahabat -radhiyallahu ‘anhum- memperhatikan kesendirian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sesudah Khadijah wafat dan berharap kiranya beliau menikah, barangkali dalam pernikahan itu ada yang menghibur kesendiriannya. Akan tetapi, siapa yang berani bicara kepada beliau soal itu ? Khaulah binti Hakim maju untuk melakukan tugas itu. Maka dia berbicara kepada Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan menawarkan ‘Aisyah binti Ash- Shiddiq radhiyallahu ‘anha, namun dia masih kecil. Maka biarlah dia dipinang, kemudian ditunggu hingga dewasa. Akan tetapi, siapakah yang akan memperhatikan urusan-urusan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan melayani putri-putri serta memenuhi rumah beliau? Pernikahan dengan ‘Aisyah tidak akan berlangsung sebelum 2 atau 3 tahun lagi. Siapakah gerangan wanita yang memimpin urusan-urusan Nabi Shallahu ‘Alaihi Wasallam dan memelihara putri-putrinya ? Dia adalah Saudah binti Zam’ah dari bani Ady bin Najjar. Rasulullah mengizinkan Khaulah meminang keduanya. Pertama Khaulah datang ke rumah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, lalu ke rumah Zam’ah. Dia menemui puterinya, Saudah, dan berkata : “Kebaikan dan berkah apa yang dimasukkan Allah kepadamu, wahai Saudah ?”

Saudah bertanya karena tidak tahu maksudnya, “Apakah itu, wahai Khaulah ?”

Khaulah menjawab :”Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengutus aku untuk meminangmu.”

Saudah berkata dengan suara gemetar, “Aku berharap engkau masuk kepada ayahku dan menceritakan hal itu kepadanya.”

Maka terjadi kesepakatan dan berlangsunglah pernikahan. Saudah mengalami situasi yang menyebabkan Rasulullah mengulurkan tangannya yang penyayang untuk menolong masa tua dan meringankan kekerasan hidup yang dirasakan oleh Saudah. Saudah telah hijrah ke Habasyah untuk menyelamatkan agama bersama suami, putra pamannya. Kemudian suaminya meninggal sebagai muhajir dan Saudah tinggal sendirian. Saudah menjadi janda yang hidup di tanah perantauan sebelum tiba di Ummul Qura. Rasulullah telah terkesan oleh wanita muhajir yang mu’min dan janda itu. Ternyata, Saudah setuju untuk menikah dengan Rasulullah.

Saudah menjadi ibu rumah tangga di rumah suaminya, sampai ‘Aisyah datang ke rumah kenabian. Dia mengetahui kedudukan ‘Aisyah terhadap hati Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Maka dia berikan harinya kepada ‘Aisyah dan melapangkan tempat pertama baginya di dalam rumah. Saudah berupaya sekuat tenaga untuk mendapatkan keridhoan pengantin yang masih muda dan menyenangkannya (‘Aisyah). Setelah menginjak masa tua yang dingin, Saudah sangat berharap untuk tetap menjadi isteri Rasulullah di dunia dan di akhirat serta tidak diharamkan dari kemuliaan yang besar ini, sekalipun dia berikan harinya kepada ‘Aisyah setelah merasa dia tidak menginginkan apa yang biasa diinginkan kaum wanita. Saudah hidup bekerja keras dalam mengurusi rumah kenabian, sementara hatinya sarat dengan keridhoan dan iman hingga Nabi pergi menghadap Rabb-nya. Saudah wafat dalam masa khilafah Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu. ‘Aisyah sering menyebut kebaikan dan memujinya atas kebaikan itu. Dia berkata, “Tidak seorang pun yang lebih aku sukai dalam dirinya daripada Saudah binti Zam’ah, hanya saja dia agak keras wataknya.” [Al-Istii’aab 4/1867)

Ketika Saudah wafat, Ibnu Abbas sujud. Ditanyakan kepadanya mengenai hal itu, maka dia menjawab, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Apabila kamu melihat suatu tanda, maka sujudlah.” Dan tanda ketika wafatnya isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itulah yang menyebabkan dia bersujud. [Thabaqat Ibnu Sa’ad, Al-Ishaabah oleh Ibnu Hajar dan Usudul Ghaabah oleh Ibnu Atsiir].

Saudah meriwayatkan lima hadits dari Rasulullah. Di antaranya satu hadits diriwayatkan dalam Sahihain [Ibnul Jauzil, Al- Mujtanaa]. Dalam satu riwayat, bahwa Bukhari meriwayatkan dari Saudah dua hadits. [Al-Maqdisi, Al-Kamaal bii Ma’rifatir Rijaal] Semoga Allah Subhana WaTa’ala  merahmatinya. Saudah menyukai sedekah dan berbudi luhur.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata : “Bahwa sebagian isteri- isteri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah di antaraa kami yang paling cepat menyusulmu ?” Nabi menjawab, “Yang terpanjang tangannya di antara kalian.” Kemudian mereka mengambil tongkat untuk mengukur tangan mereka. Ternyata, Saudah adalah orang yang terpanjang tangannya di antara mereka. Kemudian kami mengetahui, bahwa maksud dari panjang tanganya adalah suka sedekah. Saudah memang suka memberi sedekah dan dia yang paling cepat menyusulnya di antara kami.” (H.R. Syaikhain dan Nasai).

Dalam suatu riwayat lain oleh Muslim :“Yang paling cepat menyusulku di antara kalian adalah yang terpanjang tangannya di antara kalian.” ‘Aisyah berkata, “Mereka saling mengukur siapa di antara mereka yang terpanjang tangannya. Ternyata yang ter- panjang tangannya di antara kami adalah Zainab, karena dia melakukan pekerjaan tangan dan mengeluarkan sedekah.”

(abu dzakir dari www.sunnah.org )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: