DERAJAT SANG KESAYANGAN ALLAH

Suatu hari Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu mengatakan di atas mimbarnya, “Hai sekalian manusia, malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar malu. Demi Allah, sesungguhnya aku bila pergi ke tampat buang air untuk membuang hajat, aku selalu menutupi wajahku dengan pakaianku, karena malu kepada Rabb-ku.” Lagi

Iklan

ABU BAKAR MENANGIS

HARI itu seperti hari-hari yang lainnya juga. Yang tidak biasa hanyalah rencana kedatangan romobngan Bani Tamim kepada Rasulullah. Ada apakah? Itulah yang menjadi pertanyaan di benak Rasulullah. Tapi Rasulullah tetap saja berlaku tenang.

Dan, saat yang ditunggu-tunggu oleh Rasul pun datang. Kebiasaan Rasul memang selalu mengagungkan tamunya. Jika ia sudah mempunyai janji, maka akan ia dahululkan janji itu. Apalagi jika itu mengenai pertemua yang sepertinya terasa penting ini.

Rasul mempersilakan mereka semua duduk dengan tertib. Tak satupun dari tamu itu yang ia lewatkan. Semaunya disalaminya dan mendapt senyuman yang paling lembut. Sahabat-sahabat yang lain sering merasa heran, bagaimana bisa Muhammad menghafal nama-nama orang di dekatnya satu per satu tanpa pernah sekalipun melupakannya? Jika sudah begini, masing-masing mereka selalu menganggap bahwa mereka adalah orang yang paling penting dalam kehidupan Rasul.

Ketika semua sudah duduk dan menyantap hidangan ala kadarnya yang dihidangkan oleh Rasulullah karena itulah yang dipunyainya, maka Rasulullah pun berkata, “Semoga Alalh swt senantiasa memberkahi kita semua. Apakah maksud kedatangan kalian ini, wahai sahabat-sahabatku semua?”

“Kami semua baik-baik saja ya Rasulullah. Terima kasih telah menerima kami semua. Sesungguhnya kami sekarang ini sedang berada dalam keadaan yang sangat pelik. Kami membutuhkan bantuanmu sekali, jika engkau sekiranya tidak keberatan.”

Rasulullah mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menunggu saja.

Salah seorang dari mereka bicara lagi, “Sesungguhnya kami ini hendak memilih pemimpin di antara kami….”

“Dan?” Rasulullah berkata ketika ia tidak melanjutkan bicaranya.

“Dan kami tidak punya pengetahuan yang sebagus engkau. Kami sebelumnya telah berselisih siapa kiranya yang akan dan harus jadi pemimpin kami……”

“Begitu ya….?”

Semua orang diam sekarang. Mereka menundukkan kepala mereka. Ada sejumput perasaan malu karena mereka telah melibatkan Rasul dalam urusan yang tampaknya tidak seberapa itu. Rasul masih terus mengangguk-angguk kepalanya. Beliau terdiam. Cukup lama.

Dan ketika Rasulullah hendak membuka mulut, tiba-tiba Abu bakar yang berada bersama rombongan berkata cukup keras, “Angkat Al-Qa’qa bin Ma’bad sebagai pemimpin!”

Semua kepala mendongak memandang Abu Bakar. Ada mata yang setuju namun ada juga yang kelihatannya menentang.

Umar yang juga datang bersama Abu Bakar berdiri, “Tidak, angkatlah Al-Aqra bin Habis.”

Kedua orang itu kini berdiri. Suasana tampak tegang. Rasulullah hanya diam saja. Apakah Abu Bakar dan Umar akan bertengkar?

Abu Bakar dengan sedikit mendelik berkata, “Kau hanya ingin membantah aku saja, hai Sahabatku!”

“Aku tidak bermaksud membantahmu!” jawab Umar.

Keduanya untuk beberapa saat masih saja saling berkata-kata sehingga suara mereka terdengar makin keras. Mereka tampaknya tidak peduli bahwa di situ ada orang lain. Tidak peduli bahwa di tempat itu pun ada Rasulullah, panutan mereka.

Waktu itu, turunlah ayat, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha Mendengar dan maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti mengeraskan suara kamu ketika bercakap sesama kamu. Nanti hapus amal-amal kamu dan kamu tidak menyadarinya.” (Al-hujurat: 1-2).

Setelah mendengar teguran itu langsung dari Allah, semua orang di situ tertegun. Sebaliknya Abu Bakar langsung menangis. Setelah ia meminta maaf kepada sahabatnya Umar, ia menghadap Rasulullah. “Ya Rasul Allah, demi Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia.”

Rasulullah mendengar itu hanya mengelus-elus punggung Abu Bakar. Ia tersenyum kepadanya. Sedangkan Umar bin Khattab setelah itu berbicara kepada Nabi hanya dengan suara yang lembut. Bahkan kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat Nabi takut akan terhapus amal mereka karena melanggar etiket berhadapan dengan Nabi.

Rasulullah bersyukur dalam hati mempunyai sahabat-sahabat yang hatinya begitu lembut. Memang, apalah yang lebih menyedihkan dan mengerikan daripada ditegur oleh Allah secara langsung? Itulah gunanya mempunyai sahabat yang bersedia selalu mengingatkan.

ABU BAKAR ASH SHIDDIQ (KHALIFATUR RASUL)

Abu Bakar. Nama asli beliau dimasa jahiliyah adalah Abdul Ka’bah bin Utsman bin Amir, lalu Rasulullah memberinya nama Abdullah, lengkapnya Abdullah bin Abu Quhafah, sedangkan ibunya bernama Ummul Khair, Salma binti Shar. Gelar “Abu Bakar” diberikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam setelah ia menikahkan Rasul dengan anak gadisnya, ‘Aisya, dan karena cepatnya ia masuk Islam. “Ash- Shiddiq” yang berarti “sangat membenarkan” adalah gelar yang diberikan kepadanya lantaran ia segera membenarkan Rasul dalam berbagai peristiwa, terutama peristiwa Isra’ dan Mi’raj.

Abu Bakar memiliki nama panggilan “Atiq (sang tampan)”, lantaran wajahnya yang tampan dan cakap orangnya. ‘Aisyah menerangkan karakter bapaknya, “Beliau berkulit putih, kurus, tipis kedua pipinya, kecil pinggang (sehingga kainnya selalu turun dari pinggangnya), wajah selalu berkeringat, hitam matanya, berkening lebar, tidak bisa bersahaja dan selalu mewarnai jenggotnya dengan memakai inai maupun katam.” Begitulah karakter phisiknya. Ada pun akhlaknya, beliau terkenal dengan kebaikan, keberanian, kokoh pendirian, selalu  memiliki ide-ide yang cemerlang dalam keadaan genting, banyak toleransi, penyabar, memiliki azimah (kemauan keras), faqih, paling mengerti dengan garis keturunan Arab dan berita-berita mereka, sangat bertawakal kepada Allah dan yakin dengan segala janji-Nya, bersifat wara’ dan jauh dari segala yang syubhat, zuhud terhadap dunia, selalu mengharapkan apa-apa yang lebih baik di sisi ALLAH, serta lembut dan ramah, Quraisy yang supel dalam bergaul, disukai dan diterima, seorang pebisnis, dan berbudi pekerti yang baik, semoga ALLAH meridhainya.

Ketika Muhammad menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, Muhammad saw. pindah dan hidup dengannya. Pada saat itu Muhammad menjadi tetangga Abu Bakar. Sama seperti rumah Khadijah, rumahnya juga bertingkat dua dan mewah. Sejak saat itu mereka berkenalan satu sama lainnya. Mereka berdua berusia sama, pedagang dan ahli berdagang.

Istrinya Qutaylah bint Abd-al-Uzza tidak menerima Islam sebagai agama sehingga Abu Bakar menceraikannya. Istrinya yang lain, Um Ruman, menjadi Muslimah. Juga semua anaknya kecuali ‘Abd Rahman ibn Abi Bakar menerima Islam. Sehingga ia dan ‘Abd Rahman berpisah.

Dakwah Abu Bakar cukup efektif.  Sejumlah sahabat masuk Islam melalui dakwah Abu Bakar, diantaranya: Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas dan Thalhah bin Ubaidillah. Kelimanya kemudian mendapat jaminan oleh Allah akan masuk surga.

Sebagaimana yang juga dialami oleh para pemeluk Islam pada masa awal. Ia juga mengalami penyiksaan yang dilakukan oleh penduduk Mekkah yang mayoritas masih memeluk agama nenek moyang mereka. Namun, penyiksaan terparah dialami oleh mereka yang berasal dari golongan budak. Sementara para pemeluk non budak biasanya masih dilindungi oleh para keluarga dan sahabat mereka, para budak disiksa sekehendak tuannya. Hal ini mendorong Abu Bakar membebaskan para budak tersebut dengan membelinya dari tuannya kemudian memberinya kemerdekaan.

Kekokohan imannya terlihat ketika Madinah kelabu karena wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Banyak manusia bersedih, bahkan Umar murka dan tidak menerima kenyataan yang ada.

Dalam riwayat al-Bukhari diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu` anha, bahwa ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam wafat, Abu Bakar datang dengan menunggang kuda dari rumah beliau yang berada di daerah Sunh. Beliau turun dari hewan tunggangannya itu kemudian masuk ke masjid. Beliau tidak mengajak seorang pun untuk berbicara sampai akhirnya masuk ke dalam rumah Aisyah. Abu Bakar menyingkap wajah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang ditutupi dengan kain kemudian mengecup keningnya. Abu Bakar pun menangis kemudian berkata : “demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, Allah tidak akan menghimpun dua kematian pada dirimu. Adapun kematian yang telah ditetapkan pada dirimu, berarti engkau memang sudah meninggal.” Kemudian Abu Bakar keluar dan Umar sedang berbicara dihadapan orang-orang. Maka Abu Bakar berkata : “duduklah wahai Umar!” Namun Umar enggan untuk duduk. Maka orang-orang menghampiri Abu Bakar dan meninggalkan Umar. Abu Bakar berkata : “Amma bad`du, barang siapa diantara kalian ada yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah mati. Kalau kalian menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati. Allah telah berfirman :

Kemudian Abu Bakar membaca ayat QS. Ali Imran :144.

Ibnu Abbas radhiyallahu` anhuma berkata : “demi Allah, seakan-akan orang-orang tidak mengetahui bahwa Allah telah menurunkan ayat ini sampai Abu Bakar membacakannya. Maka semua orang menerima ayat Al-Qur`an itu, tak seorangpun diantara mereka yang mendengarnya melainkan melantunkannya.”

Sa`id bin Musayyab rahimahullah berkata : bahwa Umar ketika itu berkata : “Demi Allah, sepertinya aku baru mendengar ayat itu ketika dibaca oleh Abu Bakar, sampai-sampai aku tak kuasa mengangkat kedua kakiku, hingga aku tertunduk ke tanah ketika aku mendengar Abu Bakar membacanya. Kini aku sudah tahu bahwa nabi memang sudah meninggal.”

Keberanian Dakwah Abu Bakar.

Abu Bakar adalah seorang lelaki merdeka dan hartawan besar yang pertama sekali beriman (percaya) kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan seruannya. Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda tentangnya, “Aku tidak mengajak seseorang kepada Islam melainkan ada maju mundurnya, kecuali Abu Bakar bin Abu Quhafah tidak keberatan padanya dan tidak ada keraguan ketika aku mengajaknya masuk Islam.” (Syirah Ibnu Hisyam).

Ketika jumlah Muslimin Mekkah masih sangat sedikit jumlahnya, Abu Bakar menunjukkan satu keberaniannya berdakwah.

Pada suatu hari, Abu Bakar dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam serta beberapa sahabat yang lain, bersama pergi ke masjid. Setelah mereka duduk bersama-sama di masjid, Abu Bakar mohon izin kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk berdiri di tengah masjid dan berseru kepada kaum musyrikin Quraisy agar mereka itu insyaf dan mengikuti kepada seruan ALLAH dan Rasul-Nya. Di kala itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Kita masih sedikit, hai sahabatku! Kita masih sedikit, hai Abu Bakar!” Berkali-kali beliau menjawab demikian kepada sahabat Abu Bakar. Tetapi tampak oleh beliau bahwa Abu bakar sangat mendesak untuk mengerjakan keinginannya, berda’wah (berseru). Sebab itu, kehendaknya yang sebaik itu terpaksa diizinkan oleh beliau.

Abu Bakar lalu berdiri teguh ditengah-tengah masjid, lantas berkhutbah dengan suara yang sekeras-kerasnya, berseru kepada kaum musyrikin Quraisy supaya mengikut seruan ALLAH dan Utusan-Nya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sedangkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam saat itu tetap duduk bersama-sama dengan kaum Muslimin.

Setelah seruan Abu Bakar terdengar oleh sebagian kaum musyrikin Quraisy, maka sebentar kemudian mereka datang bersama-sama seraya mengerubuti Abu Bakar. Mereka memukuli Abu Bakar dengan hebatnya. Oleh karena Abu Bakar tidak kuat menolak  dan menahan pukulan-pukulan mereka, maka jatuhlah ia. Ketika Abu Bakar hendak melarikan diri, dengan segera ‘Utbah bin Rabi’ah (seorang pemuka pemuda kaum Quraisy) menangkapnya dan membantingnya sehingga jatuh lagi. Lalu dinjak-injaknya Abu Bakar dengan terompahnya yang berpaku hingga hidung Abu bakar tak kelihatan.

Saat itu juga, datang sekelompok orang dari keturunan keluarga Taimy yang masih musyrik juga yang memang untuk menolong Abu Bakar. Mereka segera mencegah musyrikin Qurisy untuk memukul Abu Bakar. Dan terlepaslah Abu Bakar dari penganiayaan kaum musyrikin Quraisy yang sangat kejam. Lalu Abu Bakar dibawa pulang oleh keturunan Taimy ke rumah Abu Quhafah, ayah Abu Bakar. Mereka lalu kembali ke masjid mendapatkan kaum musyrikin Quraisy yang telah memukuli Abu Bakar, dan diantaranya ada yang berkata, “Demi ALLAH! Jika sekiranya Abu Bakar mati terbunuh olehmu, kami harus membunuh ‘Utbah sebagai balasan kepadamu.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Menyebut Abu Bakar.

Dalam beberapa kali kesempatan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan keutamaan status Abu Bakar bagi diri Rasululah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Dari Amru bin al-Ash radhiyallahu` anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengutusnya atas pasukan Dzatus Salasil : “Aku lalu mendatangi beliau dan bertanya “Siapa manusia yang paling engkau cintai?” beliau bersabda :”Aisyah” aku berkata : “kalau dari lelaki?” beliau menjawab : “ayahnya (Abu Bakar)” aku berkata : “lalu siapa?” beliau menjawab: “Umar” lalu menyebutkan beberapa orang lelaki.” (HR.Bukhari dan Muslim)

“Sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai kekasih-Nya, sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Dan kalau saja aku mengambil dari umatku sebagai kekasih, akan aku jadikan Abu Bakar sebagai kekasih.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Dari Abu Sa`id radhiyallahu` anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam duduk di mimbar, lalu bersabda :”Sesungguhnya ada seorang hamba yang diberi pilihan oleh Allah, antara diberi kemewahan dunia dengan apa yang di sisi-Nya. Maka hamba itu memilih apa yang di sisi-Nya” lalu Abu bakar menangis dan menangis, lalu berkata :”ayah dan ibu kami sebagai tebusanmu” Abu Sa`id berkata : “yang dimaksud hamba tersebut adalah Rasulullah, dan Abu Bakar adalah orang yang paling tahu diantara kami” Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling banyak memberikan perlindungan kepadaku dengan harta dan persahabatannya adalah Abu Bakar. Andaikan aku boleh mengambil seorang kekasih (dalam riwayat lain ada tambahan : “selain rabb-ku”), niscaya aku akan mengambil Abu Bakar sebagai kekasihku. Tetapi ini adalah persaudaraan dalam Islam. Tidak ada di dalam masjid sebuah pintu kecuali telah ditutup, melainkan hanya pintu Abu Bakar saja (yang masih terbuka).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Sesungguhnya Allah telah mengutusku kepada kalian semua. Namun kalian malah berkata `kamu adalah pendusta’. Sedangkan Abu Bakar membenarkan (ajaranku). Dia telah membantuku dengan jiwa dan hartanya. Apakah kalian akan meninggalkan aku (dengan meninggalkan) shahabatku?” Rasulullah mengucapkan kalimat itu 2 kali. Sejak itu Abu bakar tidak pernah disakiti (oleh seorangpun dari kaum muslimin). (HR. Bukhari)

Abu Bakar Khalifatur Rasul

Setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam wafat, beberapa kerabat Rasul berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib yang paling berhak menggantikan sebagai khalifah. Namun sebagian kaum Anshar berkumpul di Balai Pertemuan Bani Sa’idah. Mereka hendak mengangkat Sa’ad bin Ubadah sebagai pemimpin umat. Ketegangan terjadi.  Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah datang untuk mengingatkan. Perdebatan terjadi. Mereka membicarakan siapakah yang sepatutnya yang menggantikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam memimpin kaum Muslimin dan mengurusi persoalan umat. Setelah musyawarah dan mengajukan beberapa usulan, tercapailah kesepakatan bulat bahwa khalifah pertama sesudah kematian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah orang yang pernah mengimami sholat kaum muslimin pada saat Rasulullah sakit, sahabat yang terbesar dan pendamping di dalam gua Hira. Akhirnya Abu Ubaidah (Muhajirin) dan Basyir bin Sa’ad (Anshar) membai’at Abu Bakar. Umar menyusul membai’at. Demikian pula yang lainnya. Pertikaian pun selesai.

Pemerah Susu

Menurut `ulama ahli sejarah, Abu Bakar menerima jasa memerah susu kambing untuk penduduk desa. Ketika beliau telah dibai`at menjadi khalifah, ada seorang wanita desa berkata : “Sekarang Abu Bakar tidak akan lagi memerahkan susu kambing kami.” Perkataan itu didengar oleh Abu Bakar sehingga dia berkata : “Tidak, bahkan aku akan tetap menerima jasa memerah susu kambing kalian. Sesungguhnya aku berharap dengan jabatan yang telah aku sandang sekarang ini sama sekali tidak merubah kebiasaanku di masa silam.” Terbukti, Abu Bakar tetap memerahkan susu kambing-kambing mereka.

Putera Kebanggaan.

Ketika Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, beliau memerintahkan Umar untuk mengurusi urusan haji kaum muslimin. Barulah pada tahun berikutnya Abu Bakar menunaikan haji. Sedangkan untuk ibadah umroh, beliau lakukan pada bulan Rajab tahun 12 H. beliau memasuki kota Makkah sekitar waktu dhuha dan langsung menuju rumahnya. Beliau ditemani oleh beberapa orang pemuda yang sedang berbincang-bincang dengannya. Lalu dikatakan kepada Abu Quhafah (Ayahnya Abu Bakar) : “Ini putramu (telah datang)!”

Maka Abu Quhafah berdiri dari tempatnya. Abu Bakar bergegas menyuruh untanya untuk bersimpuh. Beliau turun dari untanya ketika unta itu belum sempat bersimpuh dengan sempurna sambil berkata : “Wahai ayahku, janganlah anda berdiri!” Lalu Abu Bakar memeluk Abu Quhafah dan mengecup keningnya. Tentu saja Abu Quhafah menangis sebagai luapan rasa bahagia dengan kedatangan putranya tersebut.

Setelah itu datanglah beberapa tokoh kota Makkah seperti Attab bin Usaid, Suhail bin Amru, Ikrimah bin Abi Jahal, dan al-Harits bin Hisyam. Mereka semua mengucapkan salam kepada Abu Bakar : “Assalamu`alaika wahai Khalifah Rasulullah!” mereka semua menjabat tangan Abu Bakar. Lalu Abu Quhafah berkata : “Wahai Atiq (julukan Abu Bakar), mereka itu adalah orang-orang (yang baik). Oleh karena itu, jalinlah persahabatan yang baik dengan mereka!” Abu Bakar berkata : “Wahai ayahku, tidak ada daya dan upaya kecuali hanya dengan pertolongan Allah. Aku telah diberi beban yang sangat berat, tentu saja aku tidak akan memiliki kekuatan untuk menanggungnya kecuali hanya dengan pertolongan Allah.” Lalu Abu Bakar berkata : “Apakah ada orang yang akan mengadukan sebuah perbuatan dzalim?” Ternyata tidak ada seorangpun yang datang kepada Abu Bakar untuk melapor sebuah kedzaliman. Semua orang malah menyanjung pemimpin mereka tersebut.

Wafat.

Menurut para `ulama ahli sejarah Abu Bakar meninggal dunia pada malam selasa, tepatnya antara waktu maghrib dan isya pada tanggal 8 Jumadil awal 13 H. Usia beliau ketika meninggal dunia adalah 63 tahun. Beliau berwasiat agar jenazahnya dimandikan oleh Asma` binti Umais, istri beliau. Kemudian beliau dimakamkan di samping makam Rasulullah. Umar mensholati jenazahnya diantara makam Nabi dan mimbar (ar-Raudhah) . Sedangkan yang turun langsung ke dalam liang lahat adalah putranya yang bernama Abdurrahman (bin Abi Bakar), Umar, Utsman, dan Thalhah bin Ubaidillah.
(abudzakira: “nasehati aku”)

(Dari berbagai sumber)