ASIYA ABDUL ZAHIR

Asiya Abdul Zahir, Perempuan Budha yang Memilih Jalan Islam

Setelah memeluk agama Islam, namanya menjadi Asiya Abdul Zahir. Kedua orangtuanya adalah pemeluk agama Budha, tapi ia lebih merasa sebagai seorang Kristiani karena ia sekolah di sekolah Kristen dan berada di lingkungan umat Kristiani. Lagi

KHAULAH BINTI TSA’LABAH (WANITA YANG DIDENGAR ALLAH)

Beliau adalah Khaulah binti Tsa`labah bin Ashram bin Fahar bin Tsa`labah Ghanam bin ‘Auf. Beliau tumbuh sebagai wanita yang fasih dan pandai. Lagi

‘AISYAH BINTI ABU BAKAR

Lagi

PUSINGNYA ASMA’

Walau para shahabiyat menyibukkan diri dengan beribadah dan menghabiskan waktu untuk menghadap Allah SWT, akan tetapi pada saat mereka tertimpa musibah, mereka menganggap hal itu terjadi karena dosa-dosa mereka dan tidak tertipu dengan amal shalih mereka.

Hal ini terjadi pada diri Asma’ binti Abu Bakar, seorang wanita yang jujur, banyak beribadah dan bersyukur. Bahwa,  suatu kali  Asma’ merasa pusing, ia meletakkan tangannya di kepala, ia berkata, “Ini karena dosaku dan ampunan Allah lebih luas.”

Hal ini menunjukkan ketawadhuan dan rasa takutnya beliau kepada Allah SWT di mana ia mengatakan, “Ini karena dosaku.” Sebagaimana yang telah diketahui bahwa jika seorang hamba semakin dekat kepada Allah, ia akan semakin takut (kepada-Nya).  Dan jika hubungan dirinya dengan Rabb-nya melemah, maka rasa takut pun akan berkurang dan keimanannya juga akan melemah.

Maka dari itu Allah berfirman:

“Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS Al A’raf (7): 99).


Apa yang telah terjadi pada Asma’ ini menunjukkan (besarnya) kesabaran beliau, di mana beliau telah mengatakan, “Dan ampunan Allah lebih luas.” Harapan beliau akan ampunan Allah SWT serta harapan beliau agar sakitnya menjadi sebab ampunan Allah atas dosa-dosanya, menunjukkanbahwa beliau (sangat) bersabar dalam menghadapi musibah yang menimpanya, supaya mendapatkan pahala seperti yang disebutkannya tadi.

Sebagaimana yang telah disebutkan dalam ash shahihain yang diriwayatkan dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah ra, bahwa Nabi Saw bersabda, “Tidak ada sesuatu yang menimpa seorang muslim,  baik  itu berupa rasa lelah, sakit, duka, kesedihan, penderitaan, kegalauan hingga dari yang melukainya, kecuali Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosanya dengan hal itu.”

(Dr. Abdul hamid bin Abdurrahman as-Suhaibani).